SPPG Tegal Ratu 009 Diluncurkan, Ikhtiar Sunyi Melawan Kelaparan demi Generasi Emas

CILEGON, WILIP.ID — Di tengah kegaduhan wacana bonus demografi dan ancaman krisis gizi anak, sebuah ikhtiar sunyi diluncurkan di Kota Cilegon. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tegal Ratu 009 resmi beroperasi, Rabu, 17 Desember 2025. Inisiatif ini digerakkan relawan bersama Yayasan Bakti Bela Negara (YBBN) dan Koperasi Garuda Bakti Bela Negara.

SPPG ini bukan sekadar dapur gizi. Ia dirancang sebagai simpul perlawanan terhadap kelaparan—masalah klasik yang kerap luput dari sorotan, namun dampaknya menjalar ke mana-mana: pendidikan, moralitas, hingga stabilitas sosial.

Ketua SPPG Tegal Ratu 009, Ir. H. Muhlis Syidi, menyebut pemenuhan gizi sebagai fondasi paling dasar dalam membangun masa depan bangsa. Menurut dia, kelaparan bukan hanya persoalan perut, melainkan juga soal cara berpikir dan bertindak.

“Orang lapar mudah putus asa, mudah marah, dan mudah kehilangan arah. Gizi buruk melahirkan persoalan sosial yang panjang. Karena itu, SPPG ini kami pandang sebagai proyek kebangsaan, bukan sekadar program sosial,” ujar Muhlis dalam sambutannya.

Muhlis merujuk pada pemikiran Sayyidina Utsman bin Affan hingga refleksi penyair WS Rendra, yang sama-sama menempatkan kemiskinan dan kelaparan sebagai akar keretakan nilai dan kemanusiaan. Dari refleksi itulah, SPPG Tegal Ratu 009 dibangun sebagai unit pelayanan gizi berbasis masyarakat, sejalan dengan agenda nasional pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia.

“Memberi makan anak-anak hari ini berarti menjaga akal sehat dan akhlak Indonesia di masa depan,” kata Muhlis.

Peluncuran SPPG Tegal Ratu 009 dihadiri jajaran pengurus Yayasan Bakti Bela Negara, pengurus Koperasi Garuda Bakti Bela Negara, relawan lintas daerah dari Lampung dan Semarang, serta unsur Forkopimda Kota Cilegon. Kehadiran lintas elemen ini menandai bahwa isu gizi tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja.

Ketua DPW YBBN Provinsi Banten, H. Sahruji, menegaskan bahwa pendirian SPPG merupakan bagian dari kerja lapangan YBBN dalam mendukung agenda strategis nasional, terutama ketahanan pangan dan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Ini bukan seremoni. Kami bekerja dari hulu ke hilir. Mendampingi petani, menanam padi, hingga panen dengan hasil yang melampaui pola tradisional. Semua kami arahkan untuk mendukung program besar Presiden Prabowo Subianto,” ujar Sahruji.

Menurut dia, YBBN Banten menargetkan pendirian unit-unit pelayanan gizi serupa di sejumlah wilayah. SPPG Tegal Ratu 009 diposisikan sebagai model awal yang dapat direplikasi di kecamatan lain, menyesuaikan kebutuhan lokal.

Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks—dari kemiskinan struktural hingga ketimpangan akses pangan—SPPG ditempatkan bukan hanya sebagai program teknis, tetapi juga gerakan moral. Muhlis menegaskan, hampir semua ajaran agama menempatkan memberi makan kaum miskin sebagai ibadah paling mendasar.

“Kalau urusan perut selesai, urusan akhlak, pendidikan, dan produktivitas akan jauh lebih mudah kita bangun,” ucapnya.

Muhlis tidak menampik keterbatasan relawan dan fasilitas yang dimiliki. Namun, ia optimistis, dengan dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia industri, serta partisipasi masyarakat, SPPG Tegal Ratu 009 dapat menjadi fondasi penting menuju generasi emas Indonesia.

“Ini baru langkah awal. Kami mohon doa dan dukungan semua pihak agar ikhtiar kecil ini menjadi amal besar bagi bangsa dan negara,” tutupnya.

 

(Elisa/Red)