Mahasiswa Turun Tangan Jaga Pangan Kota, STIT Al Khairiyah Dorong Kolaborasi Nyata di Cilegon

CILEGON, WILIP.ID — Isu ketahanan pangan tak lagi menjadi wacana eksklusif pemerintah. Perguruan tinggi dan generasi muda kini mulai mengambil peran strategis. Hal inilah yang tercermin dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon, Rabu (20/1/2026) sore.

Mengusung tema “Peran Mahasiswa dan Pemuda dalam Menjaga Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Kota Cilegon”, seminar ini menjadi ruang temu gagasan antara kampus, mahasiswa, dan pemerintah daerah dalam merespons tantangan pangan di wilayah perkotaan.

Direktur LPPM STIT Al Khairiyah, Ade Imun Romadon, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Antusiasme peserta, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa isu ketahanan pangan mulai mendapat perhatian serius, khususnya di kalangan generasi muda.

“Sore hari ini kita melihat antusiasme yang luar biasa, baik dari mahasiswa maupun dari unsur pemerintah. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memfasilitasi dan mendukung kegiatan ini,” ujar Ade Imun.

Lebih dari sekadar forum diskusi, Ade Imun menegaskan seminar ini merupakan bagian dari komitmen institusi pendidikan tinggi dalam menjawab isu strategis daerah. LPPM STIT Al Khairiyah, kata dia, tidak ingin kegiatan berhenti pada tataran wacana.

“Kami berharap ini tidak berhenti sebagai seminar saja. Harus ada tindak lanjut konkret. Setelah ini, kami berencana berdiskusi langsung dengan Kepala Dinas Pertanian untuk membahas langkah teknis ke depan, khususnya terkait kolaborasi antara LPPM perguruan tinggi dengan Dinas Pertanian Kota Cilegon,” jelasnya.

Ia menambahkan, STIT Al Khairiyah memiliki sumber daya manusia yang siap terjun langsung mendukung program ketahanan pangan. Baik dosen maupun mahasiswa, menurutnya, dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah.

“Kami memiliki SDM dosen dan mahasiswa yang mumpuni. Jika dibutuhkan, mahasiswa kami siap dilibatkan dalam program-program Dinas Pertanian. Para dosen juga siap berkontribusi aktif,” tambah Ade Imun.

Dari sisi pemerintah daerah, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan isu krusial yang menyentuh hajat hidup masyarakat luas. Ia menekankan bahwa tanggung jawab menjaga pangan tidak hanya berada di pundak pemerintah.

“Ketahanan pangan ini bukan hanya tugas kepala daerah atau wakil kepala daerah, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai warga negara,” tegas Fajar.

Fajar mengakui bahwa Cilegon bukan daerah sentra produksi pangan. Namun, keterbatasan tersebut justru harus dijawab dengan inovasi dan kolaborasi lintas sektor.

“Cilegon memang bukan kota penghasil pangan utama, tapi itu bukan alasan untuk tidak berkontribusi. Kita tetap bisa bergerak bersama. Apalagi pada 5 Januari lalu kita mengikuti panen raya nasional yang ditargetkan Presiden. Dalam waktu kurang dari dua tahun, produksi nasional bisa mencapai sekitar 34,8 juta ton,” ungkapnya.

Menurut Fajar, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan pemuda menjadi kunci untuk menjawab tantangan ketahanan pangan ke depan, terutama di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.

Seminar ini pun diharapkan menjadi titik awal lahirnya kerja sama konkret antara LPPM STIT Al Khairiyah dan Dinas Pertanian Kota Cilegon. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan program berkelanjutan yang tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan peran aktif generasi muda dalam menjaga masa depan pangan Indonesia.

 

(Pis/Red*)