Ketua Umum PB Al-Khairiyah: Dari Doa Gaza hingga Seruan Boikot Amerika

0-0x0-0-0#

CILEGON, WILIP.ID — Kunjungan Duta Besar Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, ke lingkungan Al-Khairiyah tak berhenti sebagai seremoni diplomatik. Di Gedung PB Al-Khairiyah, Citangkil, Kota Cilegon, Senin (30/3/2026), momentum itu justru menjelma menjadi panggung konsolidasi gagasan—mengawinkan isu kemanusiaan, persatuan umat, hingga kritik tajam terhadap geopolitik global.

Di hadapan ratusan jamaah, Ketua Umum PB Al-Khairiyah, KH. Ali Mujahidin—akrab disapa Haji Mumu—tampil sebagai motor narasi. Suasana aula yang semula riuh mendadak senyap saat ia mulai berbicara. Dengan nada tenang namun penuh tekanan, setiap kalimatnya terdengar terukur sekaligus menggugah.

Ia membuka pidato dengan menggeser fokus dari hubungan bilateral Indonesia–Iran ke isu yang lebih mendesak: tragedi kemanusiaan di Palestina, khususnya Gaza. Baginya, solidaritas tidak boleh berhenti pada empati pasif.

“Rasulullah tidak pernah membahas Sunni atau Syiah. Yang beliau tekankan adalah umat Muslim,” tegas Haji Mumu, menabrak sekat-sekat mazhab yang kerap menjadi sumber friksi internal.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia menegaskan bahwa kesempurnaan iman berkelindan erat dengan kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks konflik Gaza, doa diposisikan bukan hanya sebagai ritual spiritual, melainkan energi yang mengikat kesadaran umat.

Namun, pidato Haji Mumu tidak berhenti pada dimensi normatif. Ia melompat lebih jauh—mengarah pada aksi konkret. Dalam bagian paling tajam, ia secara terbuka menyerukan boikot terhadap produk-produk Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap kebijakan luar negeri yang dinilai tidak berpihak pada Palestina.

“Gunakan jari jemari kita untuk mempropagandakan mereka yang merupakan penjahat,” ujarnya lantang.

Seruan itu sekaligus menandai pergeseran arena perjuangan. Dari mimbar ke media sosial, dari ruang fisik ke ruang digital. Haji Mumu melihat linimasa sebagai medan baru yang tak kalah strategis dalam membangun opini dan tekanan global.

Tak hanya itu, ia juga menyinggung pendekatan pertahanan Iran yang disebutnya tidak ingin mengulang sejarah kelam seperti Hiroshima dan Nagasaki—menunggu diserang baru bereaksi. Pernyataan tersebut menjadi refleksi atas pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks.

Dalam perspektif yang lebih luas, Haji Mumu mengaitkan konflik global dengan kepentingan ekonomi, terutama perebutan sumber daya energi seperti minyak. Ia menyebut, di balik konflik berkepanjangan, kerap tersembunyi kepentingan besar yang melibatkan aktor-aktor global.

Di ujung pidato, ia kembali menarik benang merah: peran masyarakat sipil. Menurutnya, umat tidak boleh hanya menjadi penonton.

“Gunakan propaganda kita. Ini cara kita turut menyerang,” katanya, menegaskan pentingnya narasi sebagai alat perjuangan.

Meski sarat pesan keras, Haji Mumu tetap menutup dengan nada persatuan. Ia menyambut hangat kehadiran Mohammad Boroujerdi dan menilai kunjungan tersebut sebagai suntikan energi baru bagi warga Al-Khairiyah.

“Al-Khairiyah sejak awal berdiri memiliki komitmen terhadap perjuangan umat dan persatuan. Pesan ini tidak boleh berhenti sebagai wacana,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memanfaatkan media sosial secara bijak. Baginya, ruang digital adalah pedang bermata dua—bisa menjadi alat perjuangan, sekaligus sumber disinformasi jika disalahgunakan.

“Media sosial hari ini adalah alat perjuangan. Gunakan untuk menyuarakan kebenaran, bukan memperkeruh keadaan,” tegasnya.

Kehadiran Dubes Iran di Al-Khairiyah pun akhirnya melampaui batas protokoler. Ia berubah menjadi momentum konsolidasi—mengikat emosi, mempertegas ideologi, dan membangun semangat kolektif umat.

Dari mimbar hingga linimasa, pesan yang digaungkan terasa jelas: persatuan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terus bergejolak.

 

(Has/Red*)