Gejolak KADIN Cilegon: Mukota Dinilai Jadi Penentu Masa Depan Dunia Usaha

CILEGON, WILIP.ID — Gejolak internal yang tengah melanda Kamar Dagang dan Industri Kota Cilegon dinilai bukan sekadar persoalan administratif organisasi. Di tengah terbitnya surat pembekuan kepengurusan dan penunjukan caretaker, situasi ini justru dianggap sebagai momentum penting untuk membenahi arah organisasi sekaligus memperkuat posisi pengusaha lokal di tengah derasnya arus investasi industri di Kota Cilegon.

Pembekuan tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan Pembekuan Seluruh Pengurus KADIN Kota Cilegon Periode 2025–2030 Nomor: 07/KU/KADIN-BANTEN/V/2026 serta Surat Keputusan KADIN Indonesia Nomor: SKEP/001/DP/KADIN-BANTEN/IV/2026 tentang pembekuan kepengurusan dan pengangkatan caretaker organisasi.

Anggota Dewan Kehormatan periode 2025–2030, , mengatakan langkah pembekuan dan penataan organisasi harus dimaknai sebagai upaya konsolidasi demi menjaga marwah organisasi pengusaha terbesar di Kota Baja tersebut.

Menurut dia, caretaker tidak boleh hanya diposisikan sebagai pengurus transisi administratif semata. Tim caretaker memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas organisasi sekaligus memastikan pelayanan terhadap anggota tetap berjalan di tengah dinamika internal yang berkembang.

“Momentum ini harus dijadikan ruang rekonsiliasi besar organisasi. KADIN jangan sampai terseret kepentingan kelompok tertentu, sebab organisasi ini merupakan rumah besar dunia usaha Kota Cilegon,” kata Ibrohim, Sabtu, 16 Mei 2026.

Ia menilai proses penataan organisasi harus berjalan profesional, objektif, transparan, dan tetap berpedoman pada mekanisme organisasi serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KADIN.

Menurut Ibrohim, caretaker juga dituntut bekerja independen dalam mempersiapkan Musyawarah Kota (Mukota) sebagai forum tertinggi untuk memilih ketua definitif baru. Seluruh tahapan Mukota, kata dia, harus berlangsung demokratis, akuntabel, tertib administrasi, serta memberi ruang partisipasi yang setara bagi seluruh anggota.

Bagi kalangan pengusaha, Mukota kali ini dipandang bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan. Forum tersebut menjadi penentu arah masa depan organisasi di tengah meningkatnya ekspansi industri dan investasi di Kota Cilegon.

Karena itu, sosok pemimpin baru yang akan lahir dari Mukota diharapkan tidak hanya memiliki kapasitas organisasi, tetapi juga mampu membaca tantangan dunia usaha dan dinamika investasi yang berkembang cepat.

Di tengah tumbuhnya kawasan industri dan masuknya investasi besar ke Cilegon, dinilai harus mengambil posisi strategis sebagai penghubung antara kepentingan industri, pemerintah daerah, dan pengusaha lokal.

Ibrohim mengingatkan, investasi yang masuk ke Cilegon seharusnya tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan pelaku usaha daerah.

“Industri maju, pengusaha lokal juga harus tumbuh. Jangan sampai masyarakat dan pelaku usaha daerah hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan KADIN ke depan dituntut lebih adaptif, modern, dan progresif dalam memperjuangkan kepentingan pengusaha lokal agar mampu bersaing di tengah kompetisi industri nasional maupun global.

Dengan lahirnya kepemimpinan baru yang dinilai profesional, visioner, dan berintegritas, diharapkan kembali menjadi rumah bersama bagi seluruh pengusaha tanpa sekat kepentingan politik maupun kelompok tertentu.

(Has/Red*)