Miris, Ruang Publik di Depan Masjid Raya Metro Cilegon Jadi Lokasi Pacaran Remaja

banner 120x600

CILEGON, WILIP.ID – Citra religius dan tertib yang selama ini melekat pada kawasan Perumahan Metro Cilegon mulai tercoreng. Sebuah taman kecil di bahu jalan, tepat di depan Masjid Raya Metro, justru berubah fungsi menjadi tempat nongkrong hingga pacaran bebas kalangan remaja.

Pantauan warga dan pengakuan sejumlah tokoh masyarakat menyebutkan, taman tersebut kerap dijadikan lokasi “memadu kasih” oleh remaja usia SMP, SMA, hingga usia mahasiswa, terutama pada malam hari.

Fenomena ini pun menuai keprihatinan mendalam. Bukan semata soal norma, namun juga soal ruang publik yang kehilangan marwahnya, terlebih lokasinya berada persis di depan Masjid Raya.

Tokoh masyarakat Cilegon, Sohari, yang akrab disapa Opos, menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ia menegaskan perlunya perhatian serius dari pihak keamanan perumahan maupun pengelola lingkungan.

“Ini kan persis di depan masjid. Harusnya ditertibkan. Jangan sampai Perumahan Metro yang selama ini dikenal baik dan bersih malah tercoreng citranya,” ujar Opos kepada jurnalis Wilip.id, Senin malam, 2 Februari 2026.

Menurutnya, pembiaran hanya akan memperparah situasi dan memberi pesan keliru kepada generasi muda bahwa perilaku tersebut dianggap wajar.

Pelukan di Ruang Publik, Norma Mulai Tergeser

Warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, pemandangan remaja berpelukan di atas sepeda motor yang diparkir di bahu jalan sudah menjadi hal yang sering terlihat.

“Kadang peluk-pelukan, bahkan seperti sudah biasa saja. Ini di tempat umum, depan masjid pula. Miris,” ucapnya.

Ia menilai, pergeseran nilai dan minimnya pengawasan membuat ruang publik kehilangan fungsinya sebagai tempat yang aman dan bermartabat bagi semua kalangan.

Tak Hanya Pacaran, Balap Liar Mengintai

Masalah tak berhenti di situ. Pada malam Sabtu dan Minggu, kawasan jalan perumahan tersebut juga kerap dijadikan track motor oleh oknum remaja.

“Selain pacaran, sering juga ada motor track-trackan. Ini jelas membahayakan dan sangat mengganggu ketenangan warga,” tambahnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, baik dari sisi keselamatan, ketertiban, maupun nilai sosial-keagamaan.

Butuh Ketegasan, Bukan Sekadar Imbauan

Warga berharap pihak keamanan perumahan, pengelola lingkungan, hingga aparat terkait tidak menutup mata. Penertiban, patroli rutin, dan pengawasan intensif dinilai perlu segera dilakukan agar ruang publik kembali pada fungsinya.

Masjid sebagai pusat moral dan spiritual masyarakat seharusnya menjadi benteng nilai, bukan justru menjadi saksi bisu lunturnya batas-batas etika.

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin taman kecil itu akan menjadi simbol lain dari krisis pengawasan dan degradasi moral di ruang publik.

 

(Pis/Red*)