CILEGON, WILIP.ID — KAHMI Muda Kota Cilegon tampak tak ingin sekadar jadi forum nostalgia alumni. Lewat deklarasi yang digelar bersama kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), mereka mengirim pesan tegas: kaum intelektual muda harus turun gunung, bukan hanya ramai di ruang diskusi.
Bertempat di Caffe Depreso, Jumat (1/5/2026) malam, puluhan kader dan alumni HMI berkumpul dalam forum bertajuk “Mempertegas Kedudukan Golongan Muda Intelektual di Kota Cilegon”. Suasana hangat, tapi isi diskusi jauh dari basa-basi.
Berbagai isu krusial dibedah. Mulai dari krisis kepemimpinan muda, lemahnya tradisi intelektual, hingga minimnya kontribusi konkret pemuda dalam menjawab problem daerah. Diskusi berlangsung dinamis—kritik mengalir, gagasan pun bermunculan.
Sekretaris KAHMI Muda Kota Cilegon, Wahyudi, menegaskan deklarasi ini bukan sekadar seremoni simbolik. Ia menyebut ini sebagai titik awal konsolidasi gerakan intelektual muda yang selama ini dinilai belum terarah.
“Ini bukan acara seremonial. Ini langkah awal. Kita ingin memastikan golongan muda tidak kehilangan arah. Harus jadi kekuatan pemikir sekaligus penggerak perubahan,” tegasnya.
Menurut Wahyudi, tantangan zaman sudah berubah. Kader HMI tak cukup hanya aktif dalam struktur organisasi, tapi dituntut hadir dengan solusi nyata.
Ia bahkan menyentil kecenderungan sebagian pemuda yang hanya menjadi pengamat.
“Kita tidak boleh hanya jadi penonton. Kader HMI harus mampu menjawab persoalan keumatan dan kebijakan publik dengan pendekatan intelektual yang tajam,” ujarnya.
Nada yang sama juga menguat dari forum diskusi. Sejumlah peserta menyoroti perlunya reposisi peran intelektual muda di tengah dinamika Kota Cilegon yang terus berkembang, namun masih menyisakan berbagai persoalan sosial dan pembangunan.
Mulai dari isu ketenagakerjaan, pendidikan, hingga kualitas kebijakan publik dinilai membutuhkan sentuhan pemikiran kritis generasi muda.
KAHMI Muda pun berjanji tak berhenti di satu forum. Diskusi serupa akan dijadikan agenda rutin untuk menjaga nyala tradisi intelektual.
“Ke depan, ini harus berkelanjutan. Kita ingin melahirkan gagasan progresif yang benar-benar bisa dikontribusikan untuk kemajuan Cilegon,” tutup Wahyudi.
Deklarasi ini seolah menjadi alarm bagi kaum muda intelektual di Cilegon: saatnya berhenti nyaman di ruang wacana, dan mulai hadir sebagai solusi nyata.
(Has/Red*)















