CILEGON, WILIP.ID — Ada masa ketika nama Supriyadi begitu lekat dengan perjalanan persilatan Kota Cilegon.
Jauh sebelum hari ini.
Saat dunia persilatan Cilegon mulai ditata dan IPSI Kota Cilegon memasuki babak awal perjalanannya pada era Wali Kota pertama, almarhum Tubagus Aat Syafa’at, Supriyadi menjadi salah satu sosok yang ikut berada di dalamnya.
Bersama para pendekar dan pelaku budaya lainnya, ia ikut membangun organisasi, merawat silaturahmi antarpadepokan, hingga menghidupkan berbagai kegiatan persilatan.
Namun waktu terus berjalan.
Sosok yang dahulu dikenal aktif dari satu padepokan ke padepokan lainnya itu kini justru harus terbaring.
Sudah tiga tahun.
Kamis (1/10/2026), sejumlah kawan seperjuangannya datang menjenguk Supriyadi.
Rachmatullah AS, sahabat yang telah mengenalnya selama kurang lebih 30 tahun, mengaku terenyuh melihat kondisi sahabatnya.
Bagi Rachmatullah, Supriyadi bukan sekadar kawan.
“Dia bukan kawan. Bagi saya, dia adalah sahabat. Sahabat itu akan terlahir sebagai saudara, dulur, bahkan keluarga,” ujarnya.
Kenangan pun kembali ke masa lalu.
Masa ketika mereka bersama-sama membangun dunia persilatan Cilegon.
Masa ketika Supriyadi dipercaya memegang amanah di IPSI, termasuk sebagai Ketua IPSI Anak Cabang Kecamatan Purwakarta dan kemudian terlibat di tingkat kota sebagai bagian dari Dewan Wasit-Juri.
Kini, pemandangannya berbeda.
Tidak ada lagi langkah seorang pendekar menuju gelanggang.
Tidak ada lagi aktivitas dari satu padepokan ke padepokan lainnya.
Yang tersisa adalah tubuh yang sedang menjalani ujian dan sahabat-sahabat yang datang membawa doa.
Zainal Abidin, sahabat Supriyadi lainnya, mengenang sosok yang disebutnya memiliki peran dalam menata padepokan-padepokan di Kecamatan Purwakarta.
Menurutnya, Supriyadi ikut mendorong padepokan yang sebelumnya berjalan secara kultural agar lebih terstruktur.
Bahkan, kiprahnya disebut terasa hingga berbagai wilayah Cilegon.
Dari Pulomerak, Grogol, Ciwandan, Cibeber hingga Jombang.
“Beliau selalu hadir dan memberikan dukungan,” kata Zainal.
Kini, setelah tiga tahun terbaring, para sahabat hanya bisa berharap satu hal.
Kesembuhan.
Sang istri pun terus setia mendampingi.
Ia meminta doa dari seluruh sahabat dan orang-orang yang mengenal Supriyadi.
“Sudah tiga tahun sakit. Mohon doanya untuk kesehatan suami saya. Mudah-mudahan diberikan kesembuhan,” tuturnya.
Tiga tahun mungkin telah mengubah banyak hal.
Tetapi satu hal yang tampaknya tidak berubah:
persahabatan.
Mereka yang pernah berjalan bersama Supriyadi di masa lalu, kini kembali datang ketika sahabatnya sedang berada di titik paling sulit.
Dari zaman Pak Aat…
hingga hari ini.
Dari gelanggang persilatan…
hingga tempat Supriyadi menjalani masa pemulihan.
Para pendekar itu kembali berkumpul.
Bukan untuk bertanding.
Bukan untuk menunjukkan jurus.
Tetapi untuk menundukkan kepala dan mengangkat tangan dalam doa.
Semoga sang pendekar zaman Pak Aat itu kembali sehat.
Kembali berdiri.
Dan suatu hari nanti, kembali berjalan bersama kawan-kawan seperjuangannya.
(Alfa/Red*)















