Gebyar Literasi PKBM Teratai Digelar, 20 PKBM Didorong Naik Kelas di Era Digital

CILEGON, WILIP.ID — Digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada hadirnya perangkat teknologi di ruang kelas. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah bantuan diterima: apakah teknologi itu benar-benar digunakan, dimanfaatkan tutor, dan dirasakan manfaatnya oleh peserta didik?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan gebyar literasi, numerasi, dan digitalisasi yang digelar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Teratai, di Jalan Pangeran Jayakarta No. 31A, Kelurahan Masigit, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Minggu (4/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kabid P2PNFK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon Vania Eriza serta diikuti peserta didik dan tutor dari sejumlah PKBM di Kota Cilegon.

Ketua PKBM Teratai, H. Abdul Karim, S.Ag, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program bantuan operasional kinerja terbaik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rangkaian program dimulai dari bimbingan teknis (Bimtek), pendampingan, implementasi hingga pengimbasan kepada lembaga lainnya.

“Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan kegiatan gebyar literasi, numerasi, dan digitalisasi. Ini bagian dari rangkaian kegiatan bantuan operasional kinerja terbaik yang diawali dengan Bimtek, kemudian pendampingan, implementasi dan pengimbasan,” ujar Abdul Karim.

Menurut dia, Bimtek tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan kepada tutor, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut benar-benar diterapkan di lembaga.

Setelah mendapatkan Bimtek dan pendampingan, pengetahuan tersebut kemudian diimplementasikan dan diimbaskan kepada PKBM lainnya. Dalam kegiatan ini, sekitar 20 lembaga PKBM turut dilibatkan.

“Ini salah satu bentuk pengukuran dari apa yang sudah terjadi dan sudah dilakukan oleh lembaga. Kita ingin melihat sejauh mana apa yang sudah kita sampaikan kepada lembaga-lembaga di Kota Cilegon benar-benar diterapkan,” katanya.

Dalam aspek literasi dan numerasi, peserta didik dari berbagai PKBM turut mengikuti kegiatan. Peserta yang dilibatkan berasal dari program Paket B dan Paket C.

Abdul Karim menilai penguatan numerasi tidak cukup hanya dilakukan melalui teori. Tutor dituntut mampu menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga kemampuan berhitung, memahami data, membaca informasi angka, dan memecahkan persoalan dapat benar-benar diaplikasikan.

“Harapannya praktik pembelajaran yang mendekatkan numerasi itu betul-betul bisa dirasakan oleh peserta didik,” ujarnya.

Target akhirnya bukan sekadar kegiatan seremonial. Peningkatan literasi dan numerasi diharapkan berpengaruh terhadap capaian peserta didik dalam asesmen pendidikan, termasuk ANBK maupun TKA.

Tutor juga diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi mampu mentransfer pengetahuan tersebut dengan metode yang lebih mudah dipahami peserta didik.

“Peserta didik bisa mengaplikasikannya, sehingga nilai numerasinya juga meningkat. Harapannya tentu berdampak pada hasil ANBK maupun TKA,” kata Abdul Karim.

Namun, tantangan terbesar justru muncul pada aspek digitalisasi.

Dari sekitar 23 PKBM di Kota Cilegon, kegiatan tersebut menargetkan sedikitnya 10 lembaga dapat berpartisipasi dalam praktik digitalisasi. Namun, dari target tersebut baru sekitar empat lembaga yang mengikuti kegiatan.

Kondisi itu menjadi catatan penting bahwa transformasi digital di PKBM tidak cukup hanya dengan memberikan perangkat.

Salah satu perangkat yang menjadi perhatian adalah Papan Interaktif Digital (PID) yang telah diterima sejumlah PKBM.

Abdul Karim menegaskan, perangkat tersebut harus digunakan dalam proses pembelajaran. Jangan sampai bantuan yang seharusnya menjadi instrumen peningkatan mutu pendidikan justru berakhir sebagai barang yang tersimpan di ruangan.

“Jangan sampai barang hanya disimpan di lembaga tapi tidak digunakan oleh kepala, tutor ataupun peserta didik. Sayang sekali. Barang kalau tidak dipakai, sama saja rusak. Mending dipakai sampai rusak daripada tidak dipakai sama sekali,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus pengingat bahwa ukuran keberhasilan digitalisasi bukan terletak pada berapa banyak perangkat yang dibagikan, melainkan seberapa jauh perangkat tersebut mengubah proses pembelajaran.

Karena itu, PKBM Teratai tidak ingin program digitalisasi berhenti pada kegiatan pelatihan. Ke depan, lembaga tersebut berencana memperkuat kemampuan internal dalam mengoperasikan PID sekaligus meningkatkan literasi dan numerasi peserta didiknya.

“Kalau dipercaya kembali oleh pemerintah, tentu kami siap. Kalau pun tidak ada bantuan pemerintah, secara internal kami akan memperkuat lembaga dengan kemampuan penggunaan PID, kemudian meningkatkan literasi dan numerasi anak-anak kami,” ujarnya.

Bagi PKBM Teratai, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman pertama sebagai penyelenggara kegiatan pengimbasan lintas PKBM.

Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari PKBM Teratai. Sejumlah PKBM lain di Kota Cilegon ikut membawa peserta didik dan tutor untuk mengikuti rangkaian kegiatan.

Model seperti ini menjadi penting karena keberhasilan satu lembaga tidak semestinya berhenti menjadi prestasi internal. Pengetahuan dan praktik baik justru perlu dibagikan agar peningkatan mutu pendidikan kesetaraan dapat bergerak secara kolektif.

Di titik itulah kegiatan PKBM Teratai menemukan maknanya: literasi dan numerasi membangun kemampuan peserta didik, sementara digitalisasi membuka jalan baru bagi cara belajar.

Tetapi keduanya membutuhkan satu hal yang sama—komitmen untuk benar-benar digunakan.

Sebab teknologi tanpa pemanfaatan hanya menjadi perangkat. Bantuan tanpa perubahan hanya menjadi angka dalam laporan. Dan pendidikan baru benar-benar bergerak ketika pengetahuan yang diberikan berubah menjadi kemampuan yang dipraktikkan.

(Has/Red*)