CILEGON, WILIP.ID — Ijazah seharusnya menjadi tanda bahwa seorang siswa telah menuntaskan pendidikan sekaligus menjadi bekal untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Namun, bagi sebagian siswa dari keluarga kurang mampu, ijazah justru menjadi dokumen yang belum bisa dibawa pulang.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Yakesma Cilegon bersama Yayasan Annur Insan Pembangkit PLN melalui program pendidikan “Tebus Ijazah”.
Program tersebut menyasar siswa dan siswi dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang menempuh pendidikan di madrasah maupun sekolah swasta tingkat SLTA.
Ketua Yakesma Cilegon, Ustaz Fatahilah, mengatakan program tersebut berangkat dari kepedulian terhadap siswa kurang mampu yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi masih menghadapi persoalan biaya sehingga ijazah mereka tertahan di sekolah.
“Kami melihat ternyata masih banyak siswa dari keluarga kurang mampu, khususnya di madrasah dan sekolah swasta, yang ijazahnya tertahan karena persoalan ekonomi. Padahal mereka sudah menyelesaikan pendidikan dan membutuhkan ijazah tersebut untuk melanjutkan pendidikan ataupun mencari pekerjaan,” ujar Ustaz Fatahilah dalam keterangan pers yang diterima wilip.id, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut dia, persoalan ijazah yang tertahan tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan administrasi. Di balik selembar ijazah terdapat masa depan seorang anak yang sedang diperjuangkan.
“Bagi kami, membantu mengambil ijazah bukan hanya menyelesaikan persoalan dokumen. Ada harapan anak yang ingin melanjutkan sekolah, kuliah, atau bekerja. Jangan sampai keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi mereka untuk melangkah,” katanya.
Ketika Kemampuan Ekonomi Menjadi Penghalang
Fenomena ijazah yang tertahan tidak semata-mata berbicara mengenai administrasi pendidikan. Di baliknya terdapat persoalan ekonomi keluarga yang tidak selalu terlihat dari ruang kelas.
Seorang siswa bisa saja menyelesaikan seluruh proses pembelajaran, mengikuti ujian, bahkan dinyatakan lulus. Tetapi ketika kemampuan ekonomi keluarga tidak mencukupi untuk menyelesaikan kewajiban biaya pendidikan, ijazah belum tentu dapat langsung dibawa pulang.
Di titik inilah persoalan pendidikan berubah menjadi persoalan kesempatan.
Tanpa ijazah, lulusan dapat menghadapi kendala ketika hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun ketika memasuki dunia kerja yang membutuhkan dokumen kelulusan.
“Karena itu kami ingin program ini benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan. Harapannya, ijazah yang selama ini tertahan dapat kembali ke tangan siswa sehingga mereka mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan maupun mencari pekerjaan,” ujar Fatahilah.
Bukan Sekadar Menebus Selembar Ijazah
Yang dibantu bukan sekadar selembar dokumen.
Di balik ijazah terdapat harapan seorang anak untuk melanjutkan kuliah. Ada pula lulusan yang ingin segera bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya.
Program “Tebus Ijazah” yang digagas Yakesma Cilegon bersama Yayasan Annur Insan Pembangkit PLN menjadi ikhtiar untuk membuka kembali kesempatan tersebut.
Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan pendidikan membutuhkan kepedulian bersama. Ketika keluarga memiliki keterbatasan ekonomi, dukungan dari lembaga sosial, yayasan, dunia usaha, dan masyarakat dapat menjadi jembatan agar pendidikan seorang anak tidak berhenti pada persoalan biaya.
Pendidikan Tidak Boleh Berakhir Karena Keterbatasan Biaya
Ada pesan penting dari program ini: jangan sampai perjuangan seorang siswa selama bertahun-tahun berakhir hanya karena ijazahnya tertahan.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Ketika seorang anak memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarganya.
Karena itu, program “Tebus Ijazah” bukan sekadar agenda bantuan sosial. Program ini menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan lulusan dari keluarga kurang mampu tetap memiliki kesempatan untuk menggunakan hasil pendidikan yang telah mereka perjuangkan.
Sebab, ijazah bukan hanya selembar kertas. Ia adalah bukti perjuangan, pintu kesempatan, dan salah satu bekal untuk menatap masa depan.
Dan ketika pintu itu tertutup karena keterbatasan ekonomi, kepedulian bersama semestinya hadir untuk membukanya kembali.
(Alfa/Red*)















