CILEGON, WILIP.ID – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berada pada Level III atau Siaga. Meski lokasi gunung berada di wilayah Lampung Selatan, kondisi vulkanik Anak Krakatau tetap menjadi perhatian warga pesisir Banten, termasuk masyarakat di Kota Cilegon, karena letaknya yang berada di kawasan Selat Sunda.
Berdasarkan laporan resmi Magma-VAR Badan Geologi Kementerian ESDM untuk periode pengamatan Jumat (3/7/2026) pukul 12.00–18.00 WIB, Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami aktivitas kegempaan vulkanik dangkal sebanyak dua kali, dengan amplitudo 13–18 mm dan durasi 9–10 detik. Selain itu, terekam pula tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo 1–4 mm, dominan 1 mm.
Secara visual, gunung tampak jelas hingga tertutup kabut tipis. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang, dengan tinggi kolom asap berkisar 10–100 meter di atas puncak kawah. Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan hingga mendung, dengan arah angin lemah ke barat dan barat laut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Cilegon, Fathurrohman, membenarkan bahwa laporan terbaru dari PVMBG pada Jumat sore menunjukkan status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga).
Menurut dia, informasi tersebut penting diketahui masyarakat Cilegon, terutama warga yang tinggal di wilayah pesisir maupun yang beraktivitas di perairan Selat Sunda. Meski sejauh ini belum ada dampak langsung ke wilayah Kota Cilegon, masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi.
“Betul, update laporan terakhir diterima pada pukul 18.16 WIB. Status Gunung Anak Krakatau masih Level III atau Siaga,” kata Fathurrohman saat dikonfirmasi, Jumat malam.
Ia menjelaskan, BPBD Kota Cilegon terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Anak Krakatau melalui informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta berkoordinasi dengan pihak terkait sebagai langkah antisipasi apabila terjadi perubahan aktivitas gunung api.
Dalam rekomendasi resminya, PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Imbauan ini terutama ditujukan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung dan perairan terdekat.
Bagi warga Cilegon, informasi mengenai aktivitas Anak Krakatau dinilai penting sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana di kawasan Selat Sunda. Seperti diketahui, wilayah Cilegon memiliki garis pantai yang berhadapan langsung dengan perairan Selat Sunda, sehingga perkembangan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut selalu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Namun demikian, BPBD memastikan hingga saat ini belum ada instruksi evakuasi maupun peringatan khusus bagi warga Kota Cilegon. Masyarakat diimbau tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi meningkatkan kewaspadaan dengan memantau informasi resmi dari BPBD, BMKG, maupun PVMBG.
Selain itu, warga juga diminta tidak menyebarkan kabar bohong atau spekulasi yang dapat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya hanya merujuk pada kanal resmi pemerintah, seperti Badan Geologi Kementerian ESDM, PVMBG, dan BPBD Kota Cilegon.
Pemerintah berharap masyarakat Cilegon tetap tenang, waspada, dan bijak dalam menerima informasi. Di tengah aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif, kesiapsiagaan menjadi langkah penting agar warga dapat merespons situasi secara tepat tanpa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.
(Has/Red*)















