SERANG, WILIP.ID — Ilmu pengetahuan akan kehilangan makna jika hanya berhenti di ruang kelas. Karena itu, mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Serang memilih membawa pengetahuan yang mereka pelajari di bangku kuliah turun langsung ke lingkungan pendidikan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMK Ashhabul Maimanah Sidayu, Senin, 28 September 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara dunia perguruan tinggi dan sekolah. Mahasiswa tidak hanya datang membawa materi akademik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan guru dan siswa untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan.
Bagi UNPAM Serang, pengabdian bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Lebih dari itu, PKM menjadi bagian dari upaya menghadirkan manfaat nyata dari ilmu yang diperoleh mahasiswa selama berada di kampus.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyampaikan materi melalui pemaparan, diskusi, sesi tanya jawab, hingga kegiatan interaktif bersama para siswa.
Suasana pun berlangsung komunikatif. Para siswa tidak ditempatkan hanya sebagai pendengar, tetapi diberikan ruang untuk bertanya, menyampaikan pandangan, dan terlibat dalam proses diskusi.
Model interaksi semacam ini membuat kegiatan pengabdian terasa lebih dekat dengan kehidupan siswa. Pengetahuan tidak disampaikan sebagai teori yang kaku, melainkan dikemas melalui komunikasi dua arah yang mendorong peserta untuk aktif berpikir dan berdiskusi.
Kepala SMK Ashhabul Maimanah Sidayu, Zamroni, M.Pd.I, menyambut positif kegiatan tersebut.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNPAM Serang memberikan tambahan wawasan sekaligus pengalaman bagi para siswa. Interaksi dengan mahasiswa perguruan tinggi juga membuka perspektif baru bagi peserta didik mengenai dunia pendidikan dan pengalaman belajar di jenjang yang lebih tinggi.
Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi tidak berhenti pada satu agenda PKM. Kerja sama tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi berbagai program pendidikan, pembinaan, maupun kegiatan lain yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi para siswa.
Bagi mahasiswa, turun langsung ke sekolah juga menjadi pembelajaran tersendiri.
Di ruang kuliah, mahasiswa belajar teori. Namun ketika berhadapan langsung dengan siswa, mereka dituntut mampu menerjemahkan teori tersebut menjadi bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami.
Di titik inilah pengalaman akademik diuji.
Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana menyampaikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat.
Kegiatan PKM tersebut dipimpin Noval Purnama selaku ketua kelompok bersama anggota Sobri, Suci Guswedi, Siti Nurjanah, dan Badrussalam Marhabandi. Pelaksanaan kegiatan berada di bawah bimbingan dosen pembimbing Listina Nadhia Ningsih, S.Kom., M.T.I.
Noval mengatakan, kegiatan pengabdian menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus mendapatkan pengalaman berharga melalui interaksi langsung dengan masyarakat pendidikan.
“Melalui kegiatan pengabdian ini, kami berharap ilmu dan pengetahuan yang kami berikan dapat memberikan manfaat bagi para siswa. Selain itu, kegiatan ini menjadi pengalaman bagi kami sebagai mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan,” ujarnya.
Bagi para siswa, kehadiran mahasiswa UNPAM Serang juga menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda.
Mereka dapat berdialog secara langsung dengan mahasiswa, mengenal pengalaman dunia perguruan tinggi, sekaligus memperoleh wawasan dari perspektif yang berbeda.
Pembelajaran pun tidak berjalan satu arah. Ada pertanyaan, jawaban, diskusi, dan pertukaran gagasan yang membuat ruang kelas menjadi lebih dinamis.
Di situlah esensi pengabdian kepada masyarakat menemukan bentuknya.
Perguruan tinggi tidak seharusnya berdiri sebagai menara yang jauh dari kehidupan masyarakat. Kampus memiliki tanggung jawab sosial untuk membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang akademik dan menghubungkannya dengan kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
PKM mahasiswa UNPAM Serang di SMK Ashhabul Maimanah Sidayu memang hanya berlangsung dalam satu rangkaian kegiatan.
Namun, makna pengabdian tidak berhenti ketika kegiatan selesai.
Ukuran keberhasilan sebuah pengabdian bukan hanya pada terlaksananya agenda atau dokumentasi yang tersimpan. Lebih jauh, keberhasilannya dapat dilihat dari manfaat yang tertinggal: pengetahuan baru yang diperoleh siswa, pengalaman yang dibawa mahasiswa, serta hubungan kelembagaan yang semakin kuat antara perguruan tinggi dan sekolah.
Kolaborasi seperti ini menjadi penting di tengah tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sekolah memiliki pengalaman dalam mendidik peserta didik, sementara perguruan tinggi memiliki kekuatan pada pengembangan ilmu, riset, dan inovasi.
Ketika keduanya dipertemukan, ruang untuk berbagi pengetahuan dan membangun gagasan menjadi semakin terbuka.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama mahasiswa, dosen pembimbing, jajaran sekolah, guru, dan para siswa.
Satu hari mungkin berlalu.
Namun, pesan yang dibawa dari kegiatan tersebut jauh lebih panjang: ilmu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan; pendidikan bukan hanya tentang belajar, tetapi juga tentang memberi manfaat.
Dari kampus menuju sekolah.
Dari teori menuju praktik.
Dari ilmu menuju pengabdian.
(Alfa/Red*)















