Haji Nikmatullah Desak Kabid LH Cilegon Cabut Pernyataan dan Turun Langsung ke Lokasi Tambang

banner 120x600

CILEGON, WILIP.ID – Warga Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Haji Nikmatullah, menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan Kepala Bidang (Kabid) Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan yang menyebut rumahnya berada jauh dari lokasi tambang batu. Pernyataan tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

Kepada wartawan Wilip Online, Haji Nikmatullah menegaskan bahwa aktivitas penambangan justru berlangsung sangat dekat dengan rumahnya. Ia bahkan meminta agar pernyataan Kepala Bidang (Kabid) Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungantersebut dicabut karena dianggap menyesatkan publik.

“Kami minta pernyataan Pak Andi itu dicabut. Saya sangat kecewa karena beliau mengatakan rumah saya jauh dari lokasi tambang, padahal faktanya tambang itu hanya satu jengkal dari rumah saya,” ujar Haji Nikmatullah dengan nada tegas.

Tak hanya itu, ia juga mendesak agar pejabat Dinas Lingkungan Hidup tidak sekadar memberikan penjelasan dari balik meja, melainkan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya dialami warga.

“Jangan hanya duduk nyaman di kursi empuk. Turun ke lapangan supaya tahu kondisi riil masyarakat. Kami menunggu kehadiran beliau. Apa tidak kasihan melihat kondisi warga?” ucapnya geram.

Menurut Haji Nikmatullah, aktivitas tambang batu yang berada sangat dekat dengan permukiman telah menimbulkan dampak serius. Suara alat berat, khususnya breaker pemecah batu, terdengar keras hampir setiap hari dan dirasakannya mengganggu kenyamanan serta keamanan rumah.

Ia menduga getaran dan aktivitas tersebut telah menyebabkan kerusakan fisik pada bangunan rumahnya, terutama pada bagian pondasi. Selain itu, muncul rembesan air berwarna coklat yang mengalir ke teras rumah dan masuk ke sumur bor, meski tidak sedang turun hujan.

“Suara breaker sangat kencang. Batu di bawah rumah seperti rusak. Air berwarna coklat terus merembes ke teras dan masuk ke sumur bor, padahal tidak hujan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa proses penggalian dilakukan hingga kedalaman tertentu. Setelah batu diambil, lubang galian ditimbun kembali menggunakan tanah merah dan batu. Kondisi tersebut, menurutnya, memicu rembesan air dari sela-sela batu yang mengalir dari bawah pondasi rumah.

“Air sumur bor sekarang keruh, warnanya coklat seperti rujak cingur. Pondasi rumah juga terus rembes, air keluar dari sela-sela batu walaupun cuaca sedang kering,” jelasnya.

Atas kondisi itu, Haji Nikmatullah berharap Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon segera mengambil langkah konkret. Ia meminta Kabid LH turun langsung ke lokasi tambang untuk melakukan peninjauan serta mendengarkan keluhan warga yang terdampak secara langsung.

“Yang kami minta sederhana, lihat langsung ke lapangan dan rasakan sendiri dampaknya. Jangan hanya menilai dari laporan di atas kertas,” pungkasnya.

 

(Pis/Red*)