Jalan Sunyi Kealkhairiyahan: Saat Tasawuf dan Sosial Profetik Bertemu di Sekolah

Oleh: Tubagus Subhanur

Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan krisis spiritual, satu pertanyaan muncul: bagaimana mendidik generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga berjiwa luhur dan sadar sosial?

Jawaban itu, setidaknya, ditawarkan oleh gerakan pendidikan Kealkhairiyahan. Dirintis oleh Brigjen KH. Syam’un—seorang ulama sekaligus pahlawan nasional dari Cilegon—Kealkhairiyahan bukan sekadar sekolah. Ia adalah gerakan moral yang memadukan nilai tasawuf dan gagasan sosial profetik dalam satu tarikan napas pendidikan.

Lebih dari Sekadar Lembaga Pendidikan

Kealkhairiyahan lahir dari keyakinan bahwa pendidikan bukan cuma soal angka dan ijazah. Ini soal membentuk manusia seutuhnya: akal, hati, dan tindakan. KH. Syam’un mendirikan madrasah bukan untuk sekadar mengisi ruang kelas, tapi juga sebagai madrasah kehidupan.

Di dalamnya, nilai-nilai tasawuf—seperti tawadhu, taqwa, syukur, dan sabar—ditempa sebagai fondasi karakter siswa. Bagi Kealkhairiyahan, mendidik bukan hanya mengajarkan, tapi juga menyucikan.

Tasawuf: Menyentuh Ruh Pendidikan

Tasawuf kerap dipahami sebatas jalan sunyi, tapi dalam Kealkhairiyahan, tasawuf justru menjadi napas perjuangan sosial. Pendidikan spiritual ini melahirkan lulusan yang tidak hanya shaleh secara personal, tapi juga peduli terhadap penderitaan sosial.

Nilai-nilai utama yang ditanamkan antara lain:

Tawadhu: rendah hati sebagai dasar kepemimpinan

Taqwa: integritas dalam tindakan

Syukur: fondasi kreativitas dan daya tahan

Sabar: senjata dalam menghadapi tekanan hidup dan ketidakadilan

Pendeknya, Kealkhairiyahan berusaha mencetak insan kamil—manusia utuh yang berpikir kritis tanpa kehilangan adab, berkhidmat tanpa pamrih, dan berani bersuara untuk yang lemah.

Sosial Profetik: Pendidikan yang Bergerak dan Membebaskan

Konsep sosial profetik, seperti yang digagas oleh Kuntowijoyo, menjadi jembatan antara spiritualitas dan praksis sosial. Ini bukan hanya soal dzikir dan tafakur, tapi juga aksi nyata: membela keadilan, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan ruang keberadaban.

Tiga prinsip utama sosial profetik adalah:

1. Humanisasi – mengembalikan martabat manusia dari sistem yang menindas

2. Liberasi – membebaskan dari kebodohan, kemiskinan, dan struktur yang timpang

3. Transendensi – menghubungkan tindakan sosial dengan nilai-nilai ketuhanan

Gabungan tasawuf dan sosial profetik menjadikan Kealkhairiyahan lebih dari sekadar institusi. Ia adalah gerakan transformatif yang melahirkan pemimpin berjiwa spiritual dan sosial.

KH. Syam’un: Ulama, Sufi, dan Jenderal

KH. Syam’un adalah sosok yang unik: seorang santri, sufi, sekaligus pejuang kemerdekaan. Ia tidak hanya mendirikan madrasah, tetapi juga memimpin rakyat melawan penjajahan.

Pendidikan versi Syam’un bukan bersifat sektarian, tapi inklusif. Ia menyapa semua golongan dengan semangat kasih sayang. Dari tangannya, lahir pendidikan yang:

Membebaskan (emansipatoris)

Menanamkan kesadaran spiritual dalam aksi sosial

Menumbuhkan etos ikhlas dan kejuangan

Mengajarkan toleransi, bukan hanya keberagaman formal

Menjawab Tantangan Zaman dengan Jalan Cinta

Di era yang ditandai dengan krisis identitas, disinformasi, dan dehumanisasi, Kealkhairiyahan tampil sebagai alternatif pendidikan yang membumikan nilai-nilai kenabian: cinta, kerja, dan kesadaran diri.

Ia menawarkan jalan sunyi di tengah kebisingan zaman—berilmu dengan tawadhu, beramal dengan ikhlas, dan bergerak dengan cinta. Inilah warisan Syam’un: sebuah pendidikan yang mencerdaskan, sekaligus menyucikan.

Kealkhairiyahan adalah contoh nyata bahwa spiritualitas dan aksi sosial bukan dua hal yang bertentangan. Justru, keduanya bisa bersinergi menciptakan manusia yang bukan hanya tahu arti hidup, tetapi juga mampu menghidupi nilai-nilai itu di tengah masyarakat yang kompleks.

Gerakan ini menunjukkan, di tengah dunia yang sering kali keras dan terpolarisasi, pendidikan yang berakar pada tasawuf dan sosial profetik masih relevan. Bahkan, mungkin lebih dibutuhkan dari sebelumnya.

 

Referensi:

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi

Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth

Abdul Hadi WM, Tasawuf yang Tertindas

Biografi KH. Syam’un, Depdikbud (1980)

Al-Qur’an al-Karim

 

Cilegon, 10 Agustus 2025