Journalist Goes to Campus: PWI Cilegon Buktikan Dunia Pers Masih Diminati Anak Muda

banner 120x600

CILEGON, WILIP.ID – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cilegon kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi pers masa depan melalui program “Journalist Goes to Campus”. Kali ini, STIT Al-Khairiyah menjadi titik singgah strategis, mempertemukan dunia akademik dengan denyut nadi jurnalistik profesional.

Di tengah suasana kampus yang sarat dinamika intelektual, Ketua PWI Cilegon Ahmad Fauzi Chan yang akrab disapa kang Ichan tampil bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai penyulut semangat. Ia mengaku terkesan dengan atmosfer diskusi dan antusiasme mahasiswa yang memadati forum.

“Saya sangat berbahagia bisa hadir di tengah-tengah aktivitas akademika Al-Khairiyah. Ini bukan sekadar kunjungan, ini investasi masa depan pers,” ujarnya.

Yang paling mencuri perhatian kang ichan adalah dominasi mahasiswa perempuan dalam forum tersebut. Di tengah stereotip bahwa dunia jurnalistik lapangan identik dengan laki-laki, fakta di STIT Al-Khairiyah justru menampilkan wajah baru.

“Ternyata banyak kalangan perempuannya, terutama yang di lapangan. Wartawan yang benar-benar berjibaku mencari data itu masih minim di Cilegon. Ini potensi besar,” tegasnya.

Fenomena ini dinilai sebagai sinyal kebangkitan sekaligus angin segar bagi dunia pers lokal. Ketika banyak pihak mengkhawatirkan profesi wartawan makin tergerus oleh algoritma media sosial, justru dari ruang kelas inilah optimisme baru bertunas.

“Ini satu kebanggaan. Dunia pers belum ditinggalkan. Masih banyak anak muda yang ingin menjadi wartawan,” lanjut kang ichan.

Namun, ia juga mengingatkan tantangan besar di era digital. Kecepatan informasi di media sosial sering kali mengalahkan media arus utama. Setiap orang kini bisa menjadi “reporter”, tapi tidak semua memahami etika, verifikasi, dan tanggung jawab jurnalistik.

“Sekarang semua bisa jadi wartawan. Di medsos, berita kecelakaan atau kejadian sering lebih cepat muncul. Tapi cepat saja tidak cukup. Harus benar dan bertanggung jawab,” katanya.

Di sinilah relevansi “Journalist Goes to Campus” menemukan maknanya. Program ini bukan sekadar sosialisasi profesi, melainkan proses pembentukan karakter jurnalis: kritis, berintegritas, dan berpihak pada kebenaran.

STIT Al-Khairiyah pun tak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga kawah candradimuka bagi calon-calon jurnalis muda Cilegon. Dari ruang diskusi hingga simulasi liputan, mahasiswa diajak memahami bahwa jurnalisme bukan sekadar menulis, melainkan menjaga nurani publik.

Dengan sinergi antara PWI dan dunia kampus, Cilegon perlahan membangun ekosistem pers yang sehat—dimulai dari bangku kuliah, ditempa oleh idealisme, dan diarahkan untuk mengabdi pada masyarakat. Di sinilah masa depan pers lokal sedang ditulis.

 

(Has/Red*)