BANTEN, WILIP.ID – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan peran strategis pers sebagai garda terdepan dalam menjaga kualitas informasi publik, khususnya yang berkaitan dengan desa dan pembangunan daerah tertinggal. Di tengah derasnya arus media sosial, jurnalisme profesional justru menjadi jangkar kebenaran yang sangat dinantikan masyarakat.
Hal itu disampaikan Yandri pada Senin, 9 Februari 2026, dalam momentum peringatan Hari Pers. Ia menyebut, wartawan bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga penentu arah kesadaran publik di tengah banjir informasi.
“Sekarang ini zamannya media sosial. Informasi beredar sangat cepat. Maka peran media dan wartawan menjadi sangat penting sebagai pembanding, sebagai pencerah. Mana berita yang benar, mana yang fokus, dan mana yang bisa dipercaya,” ujar Yandri.
Menurut Yandri, kehadiran media yang menyajikan informasi akurat, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah kebutuhan mendesak masyarakat hari ini. Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, wartawan profesional menjadi benteng terakhir yang menjaga ruang publik tetap sehat.
“Berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu bisa merusak kehidupan sosial. Di sinilah pers mengambil peran penting: menghadang kabar bohong dan meluruskan fakta,” tegasnya.
Lebih jauh, Yandri menekankan bahwa pemberitaan tentang desa tidak boleh dipinggirkan. Justru, desa harus ditempatkan sebagai pusat narasi pembangunan nasional. Sebab, menurutnya, membangun desa sejatinya adalah membangun Indonesia.
“Semua potensi Indonesia itu sejatinya ada di desa. Tinggal bagaimana kita mengangkatnya ke permukaan agar bisa dimaksimalkan manfaatnya. Itu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga kebanggaan bangsa,” katanya.
Ia mencontohkan berbagai program strategis nasional yang kini bertumpu pada desa, mulai dari POPDes (Pusat Organisasi Produk Desa), MBG (Makan Bergizi Gratis), hingga berbagai skema penguatan ekonomi kerakyatan. Seluruhnya, kata Yandri, berakar di desa.
“Kalau semua informasi itu tersampaikan dengan benar kepada masyarakat, saya yakin dukungan publik akan mengalir. Masyarakat akan tahu apa yang sedang dikerjakan negara untuk mereka,” ujarnya optimistis.
Dalam konteks itu, Yandri memandang pers bukan sekadar pengawas, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam membangun peradaban informasi. Melalui pemberitaan yang jernih dan berimbang, media dapat mempercepat pemahaman publik terhadap arah kebijakan negara.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan pers Indonesia yang terus bekerja di lapangan, menyebarkan informasi hingga ke “akar rumput”.
“Selamat kepada rekan-rekan wartawan Indonesia. Mudah-mudahan dengan momentum ini, teman-teman semakin semangat, semakin mantap, dan semakin hebat dalam menjalankan tugas mulianya,” pungkas Yandri.
Di era digital yang penuh riuh dan sering kali bising oleh kabar palsu, pers justru tampil sebagai mercusuar. Dan ketika pers menyorot desa dengan jernih, Indonesia pun menemukan pantulan masa depannya.
(Pis/Red*)















