CILEGON, WILIP.ID – Pendidikan agama tak lagi cukup berhenti di bangku kelas. Di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Cilegon, pendekatan itu didorong lebih progresif: praktik langsung, menyentuh pengalaman, dan menanamkan visi masa depan. Lewat pelatihan manasik haji, sekolah ini mengubah teori menjadi pengalaman nyata—meski dalam skala miniatur.
Sebanyak 206 siswa kelas XII terlibat dalam kegiatan yang digelar di lingkungan madrasah. Halaman sekolah, masjid sekitar, hingga lapangan asrama disulap menjadi replika perjalanan ibadah haji. Dari tawaf hingga sa’i, semua diperagakan secara sistematis, menghadirkan sensasi “Tanah Suci” versi edukatif.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Muizudin, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari strategi penguatan kurikulum berbasis praktik.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin. Tujuannya agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktik manasik haji dan umrah sebelum mereka lulus,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini menjadi jawaban atas kebutuhan pendidikan yang semakin kontekstual. Siswa tidak lagi hanya menghafal urutan ibadah, tetapi benar-benar menjalankannya dengan bimbingan langsung dari para guru.
Sebanyak 22 tenaga pendidik diterjunkan sebagai pembina dan pendamping. Mereka memastikan setiap tahapan ibadah dilakukan dengan benar, sekaligus memberikan pemahaman mendalam di setiap prosesnya.
Menariknya, dalam dua tahun terakhir, pelaksanaan manasik mengalami pergeseran lokasi. Jika sebelumnya dilakukan di luar daerah, kini kegiatan difokuskan di dalam lingkungan madrasah. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap regulasi pemerintah daerah yang membatasi kegiatan di luar sekolah.
“Sudah dua tahun kami laksanakan di dalam madrasah. Justru lebih efektif, karena semua pihak terlibat langsung dan memberikan dukungan penuh,” kata Muizudin.
Dukungan tersebut datang dari berbagai elemen—mulai dari kepala madrasah, Kementerian Agama, komite sekolah, hingga wali murid. Kolaborasi ini menjadikan kegiatan berjalan konsisten, tanpa kendala berarti.
Kepala MAN 2 Kota Cilegon, Mamad, menambahkan bahwa kegiatan ini memiliki dimensi lebih dari sekadar pembelajaran teknis. Ada misi besar yang ingin ditanamkan: membangun kesadaran dan cita-cita spiritual sejak dini.
“Kami ingin siswa memahami secara utuh pelaksanaan ibadah haji, dari materi hingga praktik. Tapi yang lebih penting, kegiatan ini menjadi motivasi agar mereka memiliki niat kuat untuk menunaikan ibadah haji di masa depan,” ungkapnya.
Konsep miniatur yang dihadirkan pun bukan sekadar simbolik. Pihak madrasah secara kreatif membangun replika Ka’bah dan sarana pendukung lainnya, sehingga siswa benar-benar merasakan alur ibadah secara visual dan praktik.
Antusiasme siswa menjadi bukti bahwa metode ini efektif. Berbekal materi yang sebelumnya diberikan di aula, mereka mampu menjalankan setiap tahapan dengan tertib. Peran ketua regu—yang dipegang oleh wali kelas—ikut memastikan koordinasi berjalan rapi.
Pesan kuat pun disampaikan kepada para siswa: bahwa ilmu manasik haji bukan sekadar pelajaran, melainkan bekal hidup.
“Kami berharap siswa mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh. Manfaatnya mungkin belum terasa sekarang, tapi akan sangat berarti ketika mereka benar-benar menunaikan ibadah haji atau umrah nanti,” tegas Muizudin.
Apa yang dilakukan MAN 2 Kota Cilegon ini menunjukkan satu hal: pendidikan agama bisa dikemas lebih hidup, lebih kontekstual, dan lebih membekas. Dari halaman sekolah yang sederhana, lahir investasi nilai—membentuk generasi yang tidak hanya paham secara teori, tetapi juga siap secara mental dan spiritual untuk menapaki rukun Islam kelima.
(Has/Red*)















