Stop Kompetisi, STIT Al-Khairiyah Gaungkan Kolaborasi Jurnal Ilmiah

CILEGON, WILIP.ID – Di tengah persaingan ketat publikasi ilmiah, STIT Al-Khairiyah memilih jalan berbeda. Melalui workshop pengelolaan jurnal, kampus ini mengusung semangat kolaborasi ketimbang kompetisi.

Workshop bertajuk “Stop Berkompetisi, Mari Berkolaborasi” itu digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIT Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten, pada Rabu, 24 September 2025. Acara ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat tata kelola jurnal ilmiah menuju akreditasi nasional, bahkan pengakuan internasional.

Direktur LPPM STIT Al-Khairiyah, Ade Imun Ramadan, membuka jalannya diskusi dengan penekanan pada pentingnya inovasi dan konsistensi. “Kita perlu keberanian membangun sistem publikasi ilmiah yang kuat,” ujarnya.

Nada optimisme juga datang dari Wakil Ketua I STIT Al-Khairiyah, Faizudin. Menurutnya, kepemimpinan periode 2025–2027 di bawah Ahmad Munji menargetkan jurnal-jurnal Markaz STIT Al-Khairiyah bisa menembus akreditasi SINTA peringkat 3 hingga 5 dalam dua tahun ke depan. “Workshop ini bukti nyata sinergi dan komitmen kami. Melalui kolaborasi, jurnal-jurnal di lingkungan STIT Al-Khairiyah akan mampu bersaing secara nasional bahkan internasional,” katanya.

Sebagai narasumber utama, Ahmad Habibi Syahid—dosen UIN SMH Banten sekaligus Ketua Pengda Relawan Jurnal Indonesia (RJI) Banten—menyajikan materi teknis seputar Open Journal System (OJS). Sesi yang berlangsung sejak pagi hingga sore itu mencakup desain jurnal, manajemen terbitan, indexing, etika publikasi, hak cipta, hingga keamanan website.

Pelatihan diikuti seluruh tim pengelola jurnal Markaz STIT Al-Khairiyah, yang menaungi tiga rumah jurnal unggulan:

1. At-Tashawwur: Jurnal Penelitian Pendidikan

2. Al-Kahfi: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)

3. Adz-Zikr: Jurnal Pendidikan Agama Islam (PAI)

Selain pengelola jurnal, dosen tetap maupun dosen luar biasa STIT Al-Khairiyah juga hadir, memperlihatkan dukungan kolektif dalam membangun budaya riset dan literasi.

Bagi Ade Imun Ramadan, penguatan jurnal bukan sekadar soal teknis, melainkan mentalitas. “Komitmen membangun peradaban keilmuan tidak bisa dilakukan sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi, bukan kompetisi,” katanya.

Workshop ini menegaskan posisi STIT Al-Khairiyah sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya fokus pada pengajaran, tetapi juga serius membangun riset dan publikasi ilmiah. Dari ruang pelatihan itu, lahir tekad agar para pengelola jurnal mampu mengimplementasikan keterampilan yang diperoleh untuk mengangkat nama kampus di panggung nasional maupun internasional.

“Teruslah belajar dan mencari hal baru. Manisnya kesuksesan hanya bisa diraih setelah kita memahami tantangan dan prosesnya,” menjadi pesan penutup yang menggugah peserta.

 

(Elisa/Red*)