CILEGON, WILIP.ID – Kepulan uap berwarna kuning-oranye yang terlihat dari area PT Vopak Terminal Cilegon pada Sabtu siang (31/1/2026) sempat memicu kepanikan warga dan ramai di media sosial. Namun Pemerintah Kota Cilegon memastikan peristiwa itu bukan kebocoran pipa atau tangki.
Kepastian tersebut disampaikan langsung Wali Kota Cilegon Haji Robinsar usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama Kapolres Cilegon, Ketua Komisi I DPRD, dan manajemen PT Vopak ke titik lokasi sekitar pukul 13.30 WIB.
“Tadi siang memang terlihat kepulan uap berwarna kuning-oranye yang viral. Kami langsung turun ke lokasi dan melakukan pengecekan. Hasilnya, tidak ditemukan kebocoran pipa maupun tangki,” tegas Robinsar.
Menurutnya, kondisi di area terminal sudah dinyatakan aman sejak sekitar pukul 13.30–13.40 WIB.
“Jam setengah dua sudah clear. Tidak ada kebocoran, tidak ada ledakan, dan tidak ada yang terbakar,” ujarnya.
Robinsar menjelaskan, uap yang terlihat bukan berasal dari insiden berbahaya, melainkan dari reaksi sisa material di wadah penampungan (kempu) yang bercampur dengan air.
“Kemungkinan ada sisa face oil dan asam nitrat yang bereaksi dengan air sehingga muncul uap kuning. Jadi ini bukan kebocoran dan bukan kejadian berbahaya,” jelasnya.
Meski begitu, Pemkot Cilegon tetap meminta PT Vopak memperketat standar operasional dan pengawasan lingkungan.
“Kami minta SOP terus ditingkatkan. Dari DLH juga sudah dipasang empat titik pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi,” katanya.
Robinsar mengakui ada 58 warga yang sempat mengalami keluhan seperti sesak napas akibat kejadian tersebut. Seluruhnya telah mendapatkan penanganan medis di puskesmas.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Warga yang sempat sesak sudah ditangani dan semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot bersama pihak perusahaan juga melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan, termasuk pengambilan sampel darah warga untuk diuji di laboratorium rumah sakit.
Selain itu, PT Vopak diminta mendata warga terdampak untuk keperluan pemantauan kesehatan dan kompensasi.
“Perusahaan harus hadir di tengah masyarakat. Data warga terdampak sudah kami minta agar dipastikan kesehatannya dan dipertimbangkan kompensasinya,” tegas Robinsar.
Sementara itu, HRD PT Vopak Ajeng Yunita menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat prosedur pemeliharaan rutin.
“Sekitar pukul 13.30 WIB terjadi pelepasan uap singkat yang terisolasi saat pemeliharaan rutin. Tim tanggap darurat langsung menangani pada pukul 13.35 WIB,” ujarnya.
Ia menegaskan operasional terminal tetap aman dan tidak berdampak pada keselamatan karyawan maupun lingkungan sekitar.
“Investigasi awal menunjukkan uap berasal dari reaksi sisa bahan dalam wadah pengumpul dengan lapisan air yang seharusnya tidak ada. Keselamatan karyawan dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama kami,” tutup Ajeng.
Insiden ini menjadi sorotan publik karena kembali menegaskan pentingnya transparansi dan sistem keselamatan industri kimia, khususnya di kawasan yang berdampingan langsung dengan permukiman warga.
(Pis/Red*)















