CILEGON, WILIP.ID – Alun-Alun Kota Cilegon berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai penjuru berkumpul dalam satu niat: memanjatkan doa dalam istighosah akbar memperingati Hari Ulang Tahun ke-26 Kota Cilegon, Sabtu, 26 April 2025.
Lantunan doa menggema, membentuk harmoni spiritual yang menyentuh. Namun di balik suasana khusyuk itu, tersirat pesan yang dalam: pembangunan daerah membutuhkan arah, dan nilai-nilai moral adalah kompasnya.
Istighosah dipimpin oleh tiga ulama kharismatik Cilegon—KH Izudin Mustofa, KH Amin Ma’ruf, dan KH Akrom Lathifi. Sementara tausiah disampaikan oleh Ustaz Muhammad David, yang akrab disapa Ki Koboy. Ulama muda ini dikenal dengan gaya bicara lugas dan menyentuh, menyampaikan pesan religius dengan cara yang membumi.
Dalam pesannya, Ki Koboy mengingatkan pentingnya kehadiran ulama sebagai mitra strategis pemerintah. “Ulama punya tanggung jawab moral untuk mengingatkan dan mengarahkan,” ujarnya tegas. “Kota yang membangun tanpa nilai, tanpa panduan akhlak, bisa saja besar secara fisik—tapi rapuh dalam jiwanya.”
Pernyataan itu menjadi refleksi nyata atas dinamika pembangunan kota-kota di Indonesia, termasuk Cilegon, yang kerap dihadapkan pada tantangan sosial, ekonomi, dan moralitas publik. Di sinilah ulama memegang peran vital: bukan sekadar penjaga spiritualitas umat, tapi juga penuntun arah pembangunan agar tetap berpijak pada nilai keadilan dan kemaslahatan bersama.
Wali Kota Cilegon, Robinsar, menyambut baik semangat tersebut. ia menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat, ulama, dan pemerintah. “Semoga istighosah ini menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan kita,” ucapnya.
Ia juga berharap Cilegon tumbuh tidak hanya secara ekonomi, tapi juga menjadi kota yang religius dan beradab.
Lebih dari sekadar seremoni, istighosah itu menjadi ruang temu antara harapan warga, komitmen pemerintah, dan peran ulama sebagai penjaga nurani kota. Sebuah pengingat bahwa di tengah derasnya arus pembangunan, nilai-nilai tetap harus menjadi pondasi utama.
Sejarah mencatat, ulama dan santri pernah berdiri di garis depan perjuangan bangsa. Kini, mereka kembali hadir—bukan membawa senjata, melainkan doa dan nasihat. Dan di usia ke-26 ini, Cilegon seolah mengukuhkan tekadnya: membangun bukan hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati.
(Red*)















