Warga Cilegon Bentuk Forum Kawal Kebangkitan Krakatau Steel

CILEGON, WILIP.ID – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk bukan sekadar entitas bisnis bagi warga Cilegon. Pabrik baja pelat merah itu telah menjadi bagian dari denyut sejarah kota industri tersebut—menyediakan lapangan kerja, membentuk ruang sosial, sekaligus menjadi simbol industrialisasi nasional. Karena itu, ketika negara kembali mengucurkan dana segar untuk pemulihan Krakatau Steel, perhatian publik pun menguat.

Dari kegelisahan itulah Forum Pemerhati Kebangkitan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk lahir. Forum ini terbentuk secara spontan, tanpa seremoni resmi. Namun justru dari situ pesan utamanya muncul: ada keresahan kolektif dan kehendak bersama untuk ikut mengawal arah kebangkitan Krakatau Steel.

“Ini tidak direncanakan. Tapi kami satu frekuensi,” kata H. Rebudin, perwakilan Forum Pemerhati Kebangkitan Krakatau Steel, saat ditemui Senin (5/1/2026) di Cafe Birdy Krakatau Steel, Cilegon.

Menurut Rebudin, pembentukan forum berangkat dari kesadaran bahwa Krakatau Steel telah melewati berbagai tahapan konstitusional, termasuk Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan kini memasuki fase baru pemulihan. Di titik inilah, kata dia, pengawasan publik menjadi relevan.

Forum tersebut diisi beragam elemen, mulai dari pelaku usaha lokal, asosiasi, hingga kelompok masyarakat. Mereka menegaskan tak ingin mengambil posisi berseberangan, namun juga tidak menjadi pendukung pasif. Peran yang dipilih adalah pengawal—kritis, tetapi tetap konstruktif.

Sorotan publik, lanjut Rebudin, tak bisa dilepaskan dari keputusan negara kembali mengalokasikan dana untuk Krakatau Steel. Sebab, setiap dana publik selalu menuntut akuntabilitas.

“Kami ingin ada catatan yang jujur. Mengapa Krakatau Steel bisa sampai pada kondisi seperti ini, dan mengapa negara kembali harus turun tangan,” ujarnya.

Catatan tersebut, menurutnya, penting agar proses pemulihan tidak sekadar mengulang kesalahan lama. Transparansi dan evaluasi menjadi kunci agar kebangkitan perusahaan berjalan berkelanjutan.

Dalam pertemuan yang digelar di kawasan Krakatau Steel, rapat forum itu juga dihadiri perwakilan dari jajaran direksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Kehadiran manajemen perusahaan pelat merah itu menjadi penanda mulai terbukanya ruang dialog antara masyarakat dan pengelola industri baja nasional.

Manajemen Krakatau Steel, kata Rebudin, menyambut baik terbentuknya forum dan membuka peluang kolaborasi ke depan. Ada pengakuan bahwa Krakatau Steel tak bisa dilepaskan dari denyut kehidupan Kota Cilegon.

“Ada kesadaran bahwa Krakatau Steel hidup di tengah masyarakat. Maka kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan pilihan,” ujar Rebudin menirukan pandangan manajemen dalam forum tersebut.

Forum juga menitipkan pesan kepada Direktur Utama Krakatau Steel yang baru, yang saat ini tengah menjalankan ibadah umrah. Pesan itu sederhana, namun sarat makna: agar hubungan historis antara Krakatau Steel dan masyarakat Cilegon tidak tereduksi semata oleh angka-angka laporan keuangan.

Bagi forum ini, Krakatau Steel bukan hanya soal neraca dan laba-rugi. Dari perusahaan inilah lahir berbagai fasilitas sosial, ruang publik, serta denyut ekonomi lokal. Semua itu menjadi pengingat bahwa pemulihan perusahaan harus tetap berpijak pada konteks sosial.

Forum Pemerhati Kebangkitan Krakatau Steel menegaskan tidak ingin berada di pinggir lapangan. Mereka memilih berada dekat pusat permainan—mengamati, mengingatkan, dan bila perlu mengkritik.

Tujuannya satu: memastikan kebangkitan Krakatau Steel berjalan lurus, tidak sekadar cepat.

 

(Has/Red*)