CILEGON, WILIP.ID — Musyawarah Persaudaraan Kota (MUPERKOT) PERKEMI Kota Cilegon 2026 bukan sekadar forum pergantian kepengurusan. Di balik proses regenerasi yang berjalan mulus, terselip kegelisahan besar: ancaman absennya cabang olahraga kempo di ajang Porprov Banten.
Bertempat di Sekolah Peradaban Cilegon, Sabtu (2/5/2026), forum tertinggi organisasi tingkat kota itu menetapkan I Dewa Gede Suardana sebagai Ketua Umum PERKEMI Kota Cilegon periode 2026–2030 melalui mekanisme musyawarah.
Penetapan ini menjadi penanda berakhirnya masa bakti kepengurusan 2022–2026, sekaligus awal dari harapan baru pembinaan prestasi. Namun suasana optimisme itu tak sepenuhnya utuh.
Ketua KONI Kota Cilegon, Irfan Ali Hakim, justru melontarkan nada keras yang jarang terdengar dalam forum seremonial olahraga. Ia secara terbuka mengaku kecewa atas kabar kempo terancam tidak dipertandingkan di Porprov Banten mendatang.
“Secara pribadi saya kecewa. Kempo ini cabang potensial penyumbang emas. Di setiap Porprov sebelumnya selalu jadi andalan,” tegas Irfan, dengan nada tajam.
Bagi Cilegon, kempo bukan sekadar cabang olahraga. Ia adalah “lumbung emas”. Pada gelaran Porprov sebelumnya, kempo bahkan menyumbang hingga 10 medali emas—angka yang kerap menjadi penentu posisi klasemen akhir.
Di titik inilah ironi muncul. Saat organisasi tengah memperkuat fondasi melalui MUPERKOT, panggung kompetisi justru terancam hilang.
“Kalau benar tidak dipertandingkan, ini bukan hanya soal kempo. Ini soal arah pembinaan olahraga kita,” ujar Irfan, menegaskan bahwa persoalan ini menyentuh dimensi yang lebih luas dari sekadar satu cabang olahraga.
MUPERKOT sendiri sejatinya dirancang sebagai ruang konsolidasi dan perumusan arah strategis organisasi. Dewan Pengarah MUPERKOT PERKEMI Kota Cilegon, Ahmad Alimin, menekankan bahwa forum ini adalah momentum penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet.
“MUPERKOT ini bukan sekadar agenda formal. Ini bagian dari upaya menjaga kesinambungan pembinaan dan peningkatan prestasi kempo di Kota Cilegon,” ujarnya.
Alimin juga memberikan apresiasi kepada kepengurusan sebelumnya atas kontribusi yang telah diberikan selama empat tahun terakhir. Menurutnya, fondasi yang telah dibangun harus menjadi pijakan bagi kepengurusan baru untuk melompat lebih jauh.
Harapan pun disematkan kepada Dewa Gede Suardana sebagai nahkoda. Ia dituntut tidak hanya menjaga stabilitas organisasi, tetapi juga menghadirkan inovasi dalam pembinaan atlet di tengah dinamika kebijakan olahraga yang kian kompleks.
“Kami berharap kepengurusan baru mampu memperkuat komitmen dan menghadirkan terobosan agar prestasi kempo Cilegon terus meningkat,” kata Alimin.
Selama ini, kempo memang menjadi salah satu cabang olahraga yang konsisten menyumbang prestasi bagi Kota Cilegon di level Provinsi Banten. Reputasi itu dibangun dari pembinaan yang berjenjang, disiplin dojo, hingga konsistensi atlet di berbagai kejuaraan.
Namun kini, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal pembinaan internal, melainkan juga kepastian ruang kompetisi.
MUPERKOT 2026 yang diikuti unsur pengurus, dojo, dan perwakilan anggota sejatinya telah merumuskan arah kebijakan organisasi ke depan. Tapi satu pertanyaan besar masih menggantung: untuk apa pembinaan dilakukan jika panggungnya ditiadakan?
Di tengah euforia pergantian kepemimpinan, PERKEMI Cilegon kini berdiri di persimpangan—antara melanjutkan tradisi prestasi atau menghadapi ketidakpastian sistem olahraga itu sendiri.
(Has/Red*)















