CILEGON, WILIP.ID — Organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kelurahan Ketileng, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, didorong tidak berjalan sendiri-sendiri. Lurah Ketileng Hilman Setiaji bersama Camat Cilegon Maman Herman membuka ruang silaturahmi lintas organisasi untuk memperkuat komunikasi sekaligus mengajak warga membangun pola hidup sehat.
Pertemuan tersebut mempertemukan sejumlah organisasi dan unsur masyarakat. Bukan sekadar bertukar gagasan, forum itu diarahkan menjadi ruang membangun ukhuwah sekaligus menggerakkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peduli terhadap kesehatan.
Hilman mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keinginan agar organisasi yang tumbuh di tengah masyarakat tidak hanya aktif di lingkungannya masing-masing.
“Sebagai penggagas, kami dari Kelurahan Ketileng bersama Camat Kecamatan Cilegon memberikan ruang kepada warga yang memiliki organisasi untuk bersosialisasi dengan organisasi lainnya,” kata Hilman.
Menurutnya, komunikasi lintas organisasi penting untuk menjaga kebersamaan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang dan aktivitas berbeda.
Hilman juga mengajak masyarakat membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satunya dengan rutin berolahraga dan menjauhi rokok.
“Yang pertama tentunya ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathaniyah. Kemudian memberikan edukasi kepada anak-anak muda agar gemar PHBS, berolahraga, tidak merokok dan rutin menjaga kesehatan,” ujarnya.
Ia menilai olahraga bukan sekadar aktivitas fisik. Kebiasaan berolahraga juga menjadi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia.
Hilman mengutip ungkapan Latin mens sana in corpore sano, yang bermakna jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat.
“Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kalau tubuh kita kuat, tentu akan menunjang kinerja,” katanya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan Camat Cilegon Maman Herman. Menurut Maman, perjumpaan antarlembaga dan organisasi dapat menjadi ruang memperkuat silaturahmi sekaligus kehidupan bermasyarakat.
“Ketika beberapa organisasi, khususnya organisasi keagamaan dan kemasjidan, bisa saling sharing, bersilaturahmi dan bertemu, di situlah muncul ukhuwah basyariyah sekaligus ukhuwah wathaniyah,” ujar Maman.
Maman mengatakan pemerintah akan terus memberikan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi. Namun, ia mengingatkan setiap organisasi tetap harus menjaga etika dan batas-batas dalam kehidupan berorganisasi.
“Kami memberikan ruang kepada warga Kelurahan Ketileng, khususnya beberapa organisasi yang kita sandingkan bersama, agar tetap menjaga etika keorganisasian dan saling menjaga ukhuwah,” tuturnya.
Tak hanya soal organisasi, kesehatan warga turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.
Maman mengaitkan kondisi kesehatan dengan kualitas pelayanan publik. Sebab, aparatur pemerintah setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Bayangkan lurah dan camat memberikan pelayanan kepada masyarakat setiap hari. Bagaimana pelayanan yang baik dan benar bisa terpenuhi kalau kita sendiri tidak sehat?” katanya.
Agar tak berhenti sebagai pertemuan sesaat, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Cilegon Dr. Agus Setiawan mendorong kegiatan serupa digelar secara rutin.
Agus mengusulkan agenda silaturahmi dan olahraga antarorganisasi dilakukan setiap bulan dengan melibatkan organisasi yang berbeda.
“Tidak saja selesai sampai di sini. Nanti kita agendakan setiap bulan sekali. Misalnya hari ini LDII dengan DMI, kemudian berikutnya bisa pegawai Kelurahan Ketileng dengan Kecamatan Cilegon, atau LDII dengan PWI,” jelas Agus.
Menurut Agus, Kelurahan Ketileng memiliki fasilitas olahraga yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang interaksi masyarakat. Salah satunya lapangan futsal di kawasan Ketileng Timur.
“Fasilitasnya cukup lumayan baik. Di Ketileng Timur ada fasilitas futsal yang memadai, bahkan rumput sintetisnya juga baru. Silakan kawan-kawan dan siapa pun untuk datang berolahraga, bermain futsal, mengasah kemampuan, sekaligus menjaga tubuh tetap sehat,” pungkasnya.
Pertemuan lintas organisasi di Ketileng pun membawa pesan sederhana: silaturahmi tidak harus selesai di ruang pertemuan. Lapangan olahraga bisa menjadi ruang berikutnya untuk bertemu, bergerak bersama, dan membangun komunikasi tanpa sekat.
(Alfa/Red*)















