CILEGON, WILIP.ID — Medali bukan sekadar logam. Di baliknya ada latihan, keberanian, disiplin, hingga mental untuk tidak menyerah ketika pertandingan mulai menguras tenaga.
Semangat itulah yang ditunjukkan empat atlet pra-remaja asal Lingkungan Tegal Cabe, Kelurahan Citangkil, Kota Cilegon. Tampil di ajang Maulana Hasanuddin Championship 3 (MHC 3) Piala Rektor UIN SMH Banten dan Piala Dandim 0602/Serang, mereka sukses membawa pulang empat medali sekaligus: dua emas dan dua perak.
Kejuaraan tersebut diikuti sekitar 1.180 atlet se-Banten, menjadikannya panggung yang mempertemukan para pesilat muda dari berbagai daerah di Provinsi Banten.
Namun, bagi empat pendekar cilik dari Tegal Cabe, panggung itu bukan sekadar tempat bertanding. Mereka datang membawa nama lingkungan, perguruan, sekaligus membuktikan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari tempat yang besar.
Dua medali emas dipersembahkan Radhin Sabiq Al Azzam (Azzam) dan Rehan. Sementara dua medali perak diraih Subhan dan Zaki.
Bagi keluarga dan masyarakat Tegal Cabe, torehan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Empat anak muda itu menunjukkan bahwa kerja keras di arena dapat menjadi jalan untuk mengangkat nama daerah.
Kisah Azzam bahkan menjadi salah satu cerita yang menggambarkan kuatnya mental seorang atlet muda.
Putra ketiga Heryadi, Ketua RW 02 Tegal Cabe, Citangkil, itu sempat mengalami cedera saat pertandingan. Namun, cedera tersebut tak membuat langkahnya berhenti.
Azzam memilih melanjutkan pertandingan hingga akhirnya berhasil mengamankan medali emas.
“Alhamdulillah, meski cedera, Azzam masih bisa melanjutkan pertandingan dan memboyong medali emas,” ujar Heryadi, Senin, 28 September 2026.
Bagi Heryadi, keberhasilan tersebut bukan hanya tentang medali. Ada nilai perjuangan yang jauh lebih penting: keberanian menghadapi tekanan dan kemauan untuk menyelesaikan pertandingan.
Azzam dan rekan-rekannya dari Peguron Srengani dinilai telah menunjukkan karakter yang dibutuhkan seorang atlet sejak usia dini.
“Mereka adalah pendekar cilik bermental juara, bukan bermental manja,” tegasnya.
Empat medali dari satu lingkungan menjadi pesan sederhana namun kuat: potensi besar bisa tumbuh dari lingkungan kecil, selama ada ruang untuk berlatih, dukungan keluarga, pembinaan yang konsisten, dan keberanian untuk bertanding.
Dari Tegal Cabe, empat pendekar cilik itu membawa pulang bukan hanya emas dan perak. Mereka juga membawa cerita tentang keberanian, kerja keras, serta kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat Citangkil.
Prestasi di MHC 3 Banten menjadi satu langkah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga semangat tersebut agar tidak berhenti di podium, tetapi terus tumbuh menjadi tradisi prestasi bagi generasi muda Tegal Cabe.
(Alfa/Red*)















