CILEGON, WILIP.ID – Sebanyak 164 mahasiswa Institut Agama Islam Al-Khairiyah (INSTAL) mengikuti yudisium, Sabtu (24/10/2026). Momen ini menjadi penanda babak baru perjalanan perguruan tinggi Islam tersebut setelah bertransformasi dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Khairiyah Citangkil menjadi institut.
Dari total peserta yudisium, sebanyak 125 mahasiswa berasal dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), sedangkan 39 lainnya dari Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).
Yudisium perdana ini bukan sekadar seremoni akademik. Bagi INSTAL, momentum tersebut sekaligus menjadi ujian awal untuk membuktikan bahwa peningkatan status kelembagaan diikuti penguatan mutu pendidikan dan kualitas lulusan.
Rektor INSTAL, H. Ahmad Munji, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan para mahasiswa menyelesaikan tahapan akademik. Ia berpesan agar gelar yang diraih tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi bekal untuk mengabdi kepada masyarakat.
“Setelah lulus, mereka harus kembali ke masyarakat. Mereka harus bermanfaat dan mengabdi untuk umat,” ujar Ahmad Munji, Sabtu (24/10/2026).
Pesan tersebut menegaskan orientasi pendidikan yang ingin dibangun INSTAL. Keberhasilan perguruan tinggi, menurut semangat yang disampaikan rektor, tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kontribusi mereka setelah kembali ke tengah masyarakat.
Tantangan itu semakin relevan di tengah kebutuhan tenaga pendidik yang tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki integritas, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan dunia pendidikan.
Lulusan PAI dan PIAUD Disiapkan Mengabdi
Ahmad Munji berharap para lulusan PAI dan PIAUD dapat mengambil peran dalam pengembangan pendidikan, baik pada jenjang pendidikan anak usia dini maupun pendidikan agama Islam.
Ia menyebutkan, sejumlah mahasiswa yang mengikuti yudisium telah bekerja dan aktif di berbagai lembaga pendidikan di Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kabupaten Serang.
Kondisi tersebut menjadi modal bagi para lulusan untuk mengembangkan karier sekaligus memperluas pengabdian di bidang pendidikan. Pengalaman bekerja juga memberi kesempatan bagi mereka untuk menerapkan pengetahuan akademik dalam praktik pembelajaran.
Namun, pengalaman kerja saja tidak cukup. Para lulusan tetap dituntut meningkatkan kompetensi dan profesionalisme agar mampu menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang.
Ahmad Munji juga mengingatkan pentingnya menjaga akhlak dan karakter sebagai bagian dari tanggung jawab seorang pendidik. Nilai tersebut sejalan dengan tradisi perjuangan Al-Khairiyah yang menempatkan pengabdian kepada umat sebagai bagian penting dari tujuan pendidikan.
Ia turut mengapresiasi mahasiswa yang memperoleh dukungan pembiayaan melalui program Pemerintah Kota Cilegon maupun Kartu Indonesia Pintar (KIP). Dukungan tersebut diharapkan memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus membantu mahasiswa menyelesaikan studi sesuai target akademik.
Kembangkan Tiga Fakultas
Transformasi dari sekolah tinggi menjadi institut membuka ruang pengembangan akademik yang lebih luas bagi INSTAL. Ahmad Munji menyebutkan, kampus tersebut mengembangkan tiga fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah, Fakultas Dakwah, dan Fakultas Syariah.
Selain PAI dan PIAUD, INSTAL juga menyelenggarakan sejumlah program studi lain, di antaranya Manajemen Pendidikan Islam, Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah, serta Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Pengembangan tersebut diharapkan memperluas pilihan bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, terutama di bidang pendidikan, keagamaan, komunikasi Islam, dan ekonomi syariah.
Meski demikian, bertambahnya fakultas dan program studi membawa tanggung jawab yang tidak ringan. INSTAL perlu memastikan pengembangan kelembagaan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar, fasilitas pembelajaran, serta tata kelola akademik.
Sebab, perubahan status menjadi institut baru akan bermakna apabila memberikan dampak nyata bagi mahasiswa dan masyarakat. Perluasan pilihan studi harus dibarengi dengan mutu pendidikan yang terjaga serta lulusan yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
Ahmad Munji berharap INSTAL dapat menjadi pilihan bagi lulusan sekolah menengah yang ingin menempuh pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai Islam sekaligus memiliki orientasi pengabdian sosial.
Ia juga mendorong para lulusan melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana agar peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Al-Khairiyah berlangsung secara berkelanjutan.
Transformasi Bukan Garis Akhir
Bagi INSTAL, yudisium perdana dan perubahan status kelembagaan merupakan dua momentum yang saling berkaitan. Transformasi menjadi institut membuka peluang pengembangan akademik, sementara kualitas lulusan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan perguruan tinggi dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.
Pekerjaan berikutnya adalah menerjemahkan peluang tersebut menjadi peningkatan mutu yang terukur. Mulai dari kompetensi lulusan, penguatan program studi, hingga kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan tenaga pendidik di Banten.
Nilai akhlak, pengabdian, dan kebermanfaatan bagi umat yang ditekankan Ahmad Munji diharapkan tetap menjadi fondasi di tengah perkembangan institusi.
Transformasi dari STIT menjadi institut pada akhirnya bukan garis akhir. Perubahan status itu justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menjaga nilai-nilai keislaman, meningkatkan kualitas akademik, dan melahirkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Yudisium 164 mahasiswa menjadi salah satu penanda perjalanan tersebut. Tantangan INSTAL ke depan bukan hanya meluluskan mahasiswa, melainkan juga memastikan ilmu yang mereka peroleh benar-benar diterapkan dalam praktik pendidikan dan kehidupan sosial.
(Has/Red*)















