Ketum PB Al-Khairiyah Haji Mumu Paparkan Sejarah dan Perjalanan Organisasi di Muktamar XI

CILEGON, WILIP.ID – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah, Dr. KH. Ali Mujahidin, S.H.I., M.M., M.H., yang akrab disapa Haji Mumu, memaparkan sejarah panjang dan perjalanan organisasi Al-Khairiyah dalam mengembangkan pendidikan Islam serta perannya di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Haji Mumu dalam sambutannya pada pembukaan Muktamar XI Al-Khairiyah, Jumat 16 Oktober 2026 Di hadapan para peserta dan tamu undangan, ia menekankan pentingnya memahami sejarah organisasi sebagai pijakan untuk menjaga soliditas dan melanjutkan perjuangan para pendiri.

Dalam kesempatan tersebut, Haji Mumu menyampaikan apresiasi kepada jajaran pemerintah, unsur TNI-Polri, para ulama, pengurus organisasi, serta seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan seluruh pengurus yang telah bekerja mempersiapkan agenda organisasi tersebut.

Haji Mumu: Al-Khairiyah Bermakna Kebaikan

Dalam sambutannya, Haji Mumu menjelaskan bahwa Al-Khairiyah memiliki makna kebaikan. Karena itu, nilai kebaikan harus menjadi landasan bagi setiap langkah organisasi, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Al-Khairiyah itu artinya baik atau kebaikan. Jadi, apa yang kita lakukan harus berorientasi pada kebaikan,” katanya.

Menurut dia, pemahaman terhadap sejarah Al-Khairiyah menjadi bagian penting dalam menjaga identitas organisasi, memperkuat persatuan, dan memastikan perjuangan para pendiri tetap berlanjut.

Ia menilai perjalanan Al-Khairiyah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan pendidikan Islam, khususnya transformasi pesantren tradisional menjadi lembaga pendidikan yang lebih modern.

Berawal dari Pesantren, Berkembang Menjadi Organisasi

Haji Mumu memaparkan bahwa perjalanan Al-Khairiyah berawal dari tradisi pendidikan pesantren yang dirintis para pendahulu. Dalam perkembangannya, lembaga tersebut mengalami transformasi dari pesantren tradisional menuju sistem pendidikan yang mengintegrasikan pesantren dan madrasah.

Menurut dia, perkembangan tersebut menjadi bagian penting dari upaya Al-Khairiyah menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Dalam perjalanan berikutnya, Al-Khairiyah juga berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan. Kiprahnya tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi turut mencakup penguatan kehidupan sosial dan kontribusi bagi masyarakat.

“Perjalanan Al-Khairiyah harus dipahami sebagai perjuangan panjang. Dari pesantren, berkembang menjadi lembaga pendidikan modern, hingga menjadi organisasi yang memiliki peran di tengah masyarakat,” tuturnya.

Muktamar XI Jadi Momentum Memperkuat Soliditas

Pada pembukaan Muktamar XI Al-Khairiyah, Haji Mumu juga menekankan pentingnya menjaga kekuatan organisasi dan meneruskan perjuangan para pendahulu.

Menurut dia, keberlanjutan Al-Khairiyah membutuhkan komitmen seluruh elemen organisasi, mulai dari pengurus pusat, pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga badan otonom.

Ia berharap muktamar menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan, menyatukan langkah, serta memastikan organisasi terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Haji Mumu menegaskan bahwa amanah kepemimpinan harus dipandang sebagai tanggung jawab untuk mengabdi, bukan semata-mata kehormatan pribadi.

Baginya, menjaga kepercayaan organisasi berarti memastikan perjuangan Al-Khairiyah tetap berjalan dan mampu menjawab tantangan zaman, terutama dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial.

Ia pun mengajak seluruh keluarga besar Al-Khairiyah menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pijakan dalam menjalankan organisasi.

Melalui Muktamar XI, ia berharap semangat perjuangan para pendiri tetap terjaga, soliditas organisasi semakin kuat, dan Al-Khairiyah terus memberikan kontribusi bagi umat serta bangsa.

(Has/Red*)