Jelang Muktamar XI, PB Al-Khairiyah Temui Menag Nasaruddin Umar, Perkuat Sinergi Pendidikan dan Dakwah

JAKARTA, WILIP.ID – Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah memperkuat komunikasi dan sinergi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia menjelang pelaksanaan Muktamar XI Al-Khairiyah pada 16–18 Oktober 2026. Jajaran PB Al-Khairiyah bersilaturahmi dengan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, di Kantor Kementerian Agama RI, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya PB Al-Khairiyah membangun kolaborasi dengan pemerintah, terutama dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial keagamaan. Dalam kesempatan itu, jajaran PB Al-Khairiyah juga menyampaikan undangan kepada Menteri Agama untuk menghadiri Muktamar XI.

Ketua Umum PB Al-Khairiyah, Dr. KH. Ali Mujahidin, S.HI, MM, MH, mengatakan silaturahmi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi kelembagaan sekaligus membangun kolaborasi dalam menjalankan program-program organisasi.

Menurut Ali Mujahidin, komunikasi dengan Kementerian Agama menjadi langkah penting untuk memperluas kontribusi Al-Khairiyah, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat dakwah, dan mengembangkan kegiatan sosial keagamaan.

“Menjelang Muktamar XI Al-Khairiyah pada 16–18 Oktober 2026, kami terus membangun komunikasi dan memperkuat silaturahmi dengan berbagai pihak. Kami berharap Al-Khairiyah dapat terus bersinergi dengan Kementerian Agama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” ujar Ali Mujahidin.

Bagi Al-Khairiyah, silaturahmi ini bukan sekadar agenda menjelang perhelatan organisasi. Komunikasi dengan pemerintah menjadi salah satu langkah untuk memperkuat hubungan kelembagaan sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan dan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Di tengah perubahan sosial yang semakin dinamis, organisasi kemasyarakatan Islam memiliki ruang pengabdian yang strategis, mulai dari pendidikan dan pembinaan karakter generasi muda hingga penguatan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah perlu diterjemahkan ke dalam program yang terarah, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Selain memperkuat komunikasi dengan pemerintah, perhatian PB Al-Khairiyah kini tertuju pada pelaksanaan Muktamar XI yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 16–18 Oktober 2026.

Ali Mujahidin menegaskan, muktamar tidak semestinya dipandang sebatas forum pergantian kepemimpinan atau agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, muktamar menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, memperkuat konsolidasi, dan merumuskan arah perjuangan Al-Khairiyah ke depan.

“Kami ingin Muktamar XI menjadi momentum memperkuat persatuan, menyatukan visi, dan meneguhkan kembali komitmen seluruh keluarga besar Al-Khairiyah untuk terus berkhidmat bagi umat, bangsa, dan negara. Semangat pengabdian harus terus dijaga agar Al-Khairiyah semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Menurut dia, konsolidasi organisasi diperlukan agar seluruh elemen Al-Khairiyah memiliki kesamaan pandangan mengenai prioritas program, penguatan kelembagaan, serta keberlanjutan kontribusi di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.

Muktamar juga menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa semangat perjuangan organisasi tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan melalui program kerja yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Tantangan ke depan menuntut organisasi untuk mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Penguatan kualitas pendidikan, pembinaan generasi muda, pengembangan dakwah yang relevan, serta kepedulian terhadap persoalan sosial perlu menjadi bagian dari agenda pengabdian yang berkelanjutan.

Dengan demikian, Muktamar XI diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga mempertegas arah kerja Al-Khairiyah agar semakin responsif terhadap kebutuhan umat dan bangsa.

Mengusung semangat “Ta’muruna Bil Ma’ruf Wa Tanhauna ‘Anil Munkar”, Al-Khairiyah meneguhkan komitmen untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagai landasan perjuangan organisasi.

Silaturahmi dengan Menteri Agama dan persiapan menuju Muktamar XI menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat peran tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan komunikasi, konsolidasi, dan rumusan program dapat diwujudkan menjadi kerja nyata yang manfaatnya dirasakan masyarakat.

Bagi keluarga besar Al-Khairiyah, Muktamar XI menjadi momentum untuk memperkuat persatuan sekaligus menegaskan kembali relevansi pengabdian organisasi bagi umat dan bangsa.

(Has/Red*)