CILEGON, WILIP.ID – Institut Agama Islam Al-Khairiyah (INSTAL) menggelar Ta’aruf Kampus dan Kuliah Umum Pascasarjana untuk pertama kalinya. Kegiatan ini menjadi momentum pengenalan pendidikan pascasarjana sekaligus memperkuat harapan agar pendidikan tinggi berkontribusi lebih besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kota Cilegon.
Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah, Dr. KH. Ali Mujahidin, S.HI., MM., MH., berharap kehadiran program magister di INSTAL Al-Khairiyah tidak sekadar memperluas pilihan pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu penggerak kemajuan intelektual masyarakat.
Menurut Ali Mujahidin, yang akrab disapa Haji Mumu, Cilegon memiliki modal sosial dan sejarah pendidikan keagamaan yang kuat. Di sisi lain, kota ini juga dikenal sebagai kawasan industri baja. Dua identitas tersebut, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan penguatan kualitas manusia melalui pendidikan.
“Kita berharap ini menjadi parameter peningkatan sumber daya manusia di Cilegon, yang mudah-mudahan membuat Cilegon menjadi daerah yang maju, terutama dalam dunia pendidikan,” ujar Haji Mumu dalam kegiatan Ta’aruf Kampus dan Kuliah Umum Pascasarjana INSTAL Al-Khairiyah.
Harapan tersebut menempatkan pendidikan pascasarjana sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi akademik. Kehadiran program magister diharapkan membuka kesempatan bagi masyarakat, termasuk kalangan profesional dan tenaga pendidik, untuk melanjutkan studi.
Bagi Cilegon, penguatan pendidikan tinggi menjadi relevan di tengah perkembangan industri dan perubahan kebutuhan kompetensi. Kemajuan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat mengembangkan pengetahuan, beradaptasi, dan mengambil peran dalam berbagai bidang pembangunan.
Haji Mumu menekankan bahwa perguruan tinggi harus mampu merespons perubahan zaman. Dosen dan mahasiswa, kata dia, perlu terus mengembangkan ilmu pengetahuan, menyesuaikan diri dengan perubahan regulasi, serta memanfaatkan teknologi secara bijak.
Namun, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu disertai penguatan etika dan karakter. Pendidikan tinggi, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang beradab dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi yang terus mengubah berbagai aspek kehidupan. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik, tetapi juga mendorong tanggung jawab moral dalam penerapan ilmu pengetahuan.
Haji Mumu juga menyinggung perubahan identitas Kota Cilegon dari kota yang dikenal dengan tradisi santri menjadi pusat industri baja. Ia berharap perkembangan berikutnya turut ditandai dengan semakin kuatnya tradisi intelektual di tengah masyarakat.
“Kalau dulu Cilegon itu kota santri, kemudian bergeser menjadi kota baja. Sekarang menjadi kota para intelektual dan sejarah,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan harapan agar Cilegon tidak hanya dikenal karena aktivitas industrinya, tetapi juga karena kualitas pendidikan dan kapasitas intelektual masyarakatnya. Dalam konteks itu, pengembangan pendidikan pascasarjana menjadi salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi keilmuan.

Pemkot Cilegon Buka Peluang Dukungan Pendidikan
Dukungan terhadap pengembangan pendidikan pascasarjana juga disampaikan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Sekretariat Daerah Kota Cilegon, H. Rahmatullah, S.Kom., M.Si.
Rahmatullah menyambut baik kegiatan Ta’aruf Kampus dan Kuliah Umum Pascasarjana INSTAL Al-Khairiyah. Ia menilai, pembangunan daerah perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM agar masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk berkembang.
“Pemerintah Kota Cilegon menyambut baik adanya program pascasarjana. Pembangunan bukan hanya infrastruktur, tetapi juga membangun sumber daya manusia,” ujar Rahmatullah.
Menurutnya, pengembangan pendidikan tinggi membuka peluang kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor industri. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas dukungan terhadap masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan.
Rahmatullah mengatakan, peluang itu dapat dikoordinasikan dengan lembaga terkait maupun perusahaan yang beroperasi di Kota Cilegon, termasuk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
“Tentu akan kita koordinasikan dengan lembaga atau CSR yang ada di Kota Cilegon. Kita punya lembaga dan juga industri yang mudah-mudahan bisa memberikan dukungan untuk program pascasarjana,” katanya.
Pernyataan tersebut membuka peluang penjajakan kerja sama untuk mendukung pengembangan pendidikan pascasarjana. Namun, Rahmatullah menegaskan melalui keterangannya bahwa dukungan tersebut masih memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait.
Karena itu, peluang dukungan CSR belum dapat dipandang sebagai bantuan yang sudah terealisasi. Bentuk kerja sama, mekanisme dukungan, dan pihak yang terlibat masih perlu dibicarakan lebih lanjut.
Meski demikian, keterlibatan pemerintah daerah dan dunia industri berpotensi menjadi salah satu jalur untuk memperluas akses pendidikan. Dukungan yang terarah dapat membantu menjembatani kebutuhan pendidikan masyarakat dengan sumber daya yang tersedia di lingkungan daerah.
















