Tb Sofat Pede Rebut Kursi Kadiskominfo Cilegon, Bermodal 4,5 Tahun Pengalaman di Aptika

CILEGON, WILIP.ID — Persaingan memperebutkan kursi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Cilegon memasuki babak penentuan. Tiga nama telah masuk dalam bursa kandidat terbaik melalui mekanisme manajemen talenta Pemerintah Kota Cilegon. Di tengah kompetisi tersebut, Kepala Bidang Aplikasi Informatika (Aptika), Tb Sofat, menyatakan optimistis mampu melewati seluruh tahapan penilaian.

Optimisme Sofat bukan tanpa alasan. Pengalamannya selama kurang lebih 4,5 tahun mengelola bidang aplikasi informatika di Diskominfo menjadi salah satu modal untuk memahami persoalan, kebutuhan, sekaligus arah pengembangan organisasi yang kini tengah menghadapi tuntutan transformasi digital.

Dalam bursa tiga besar tersebut, Sofat berhadapan dengan dua kandidat lainnya, yakni Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskominfo, Zainal Musaddad, serta Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik pada Dinas Kominfo SP, Ipung Ernawati Setianingrum.

Ketiganya memiliki latar belakang dan pengalaman birokrasi yang berbeda. Persaingan ini sekaligus menjadi ujian bagi mekanisme manajemen talenta yang diterapkan Pemkot Cilegon dalam menentukan figur yang dinilai paling sesuai untuk memimpin perangkat daerah strategis tersebut.

Usai mengikuti wawancara penilaian kompetensi bersama Tim Komite Talenta di Assessment Center BKPSDM Kota Cilegon, Selasa, 3 November 2026, Sofat mengaku percaya diri menghadapi proses seleksi.

“Sangat optimistis, malu kalau saya tidak optimistis, karena saya dan beberapa rekan dari Kominfo sudah menduduki kurang lebih 4,5 tahun,” kata Sofat.

Bagi Sofat, pengalaman tersebut bukan sekadar hitungan masa kerja. Selama bertugas di Diskominfo, ia bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan teknis dan kebutuhan pengembangan aplikasi informatika. Pengalaman itu menjadi bekal untuk membaca tantangan organisasi, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik berbasis teknologi.

Dalam sesi wawancara, para kandidat tidak hanya diuji melalui pemaparan pengalaman jabatan. Mereka juga diminta menguraikan persoalan aktual yang dihadapi Diskominfo, strategi penyelesaian, hingga gagasan pengembangan organisasi ke depan.

Sofat menjelaskan, pertanyaan yang diajukan anggota Komite Talenta berkaitan langsung dengan kebutuhan dan kondisi internal Diskominfo. Mulai dari persoalan yang sedang dihadapi, program yang perlu diperkuat, hingga langkah strategis untuk meningkatkan kinerja perangkat daerah.

Menurut dia, terdapat lima anggota Komite Talenta yang terlibat dalam proses wawancara. Masing-masing mengajukan sekitar dua hingga tiga pertanyaan dengan alokasi waktu kurang lebih lima menit.

“Pertanyaannya menyesuaikan dengan yang ada di Kominfo, terkait permasalahan di Kominfo, ke depan seperti apa, apa saja yang harus dikembangkan,” ujarnya.

Sebelum menempati posisi Kepala Bidang Aptika, Sofat juga memiliki pengalaman penugasan di sejumlah organisasi perangkat daerah. Ia pernah menjabat Kepala Bidang Politik pada Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), serta Kepala Seksi Kepemudaan di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Cilegon.

Rekam jejak lintas perangkat daerah tersebut menjadi bagian dari pengalaman birokrasi yang dibawanya dalam mengikuti seleksi. Meski demikian, Sofat menyadari bahwa pengalaman dan optimisme pribadi bukan satu-satunya faktor penentu dalam kompetisi tersebut.

Ia justru menilai dua kandidat lainnya juga memiliki kapasitas dan kompetensi masing-masing. Karena itu, proses seleksi harus menjadi ruang pembuktian profesional, bukan sekadar pertarungan popularitas maupun kedekatan dengan lingkungan kekuasaan.

“Pada dasarnya semua berkompeten, dan Komite sangat profesional. Saya pastikan Komite memilih dari nilai terbaik dan orang yang tepat,” kata Sofat.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan sikapnya terhadap mekanisme seleksi yang sedang berlangsung. Ia mengaku percaya bahwa Tim Komite Talenta akan bekerja berdasarkan hasil penilaian dan kompetensi setiap kandidat.

Siapa pun yang nantinya dipercaya menduduki kursi Kepala Diskominfo Cilegon akan menghadapi pekerjaan yang tidak ringan. Perkembangan teknologi informasi menuntut pemerintah daerah bergerak lebih cepat, bukan hanya dalam menyediakan infrastruktur digital, tetapi juga memastikan teknologi benar-benar berdampak terhadap kualitas pelayanan masyarakat.

Diskominfo memiliki posisi strategis dalam mendukung keterbukaan informasi publik, pengelolaan komunikasi pemerintahan, keamanan informasi, serta pengembangan sistem pemerintahan berbasis elektronik.

Karena itu, jabatan kepala dinas tidak cukup hanya diisi oleh figur yang memahami urusan administratif. Dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan kebutuhan teknologi menjadi kebijakan, membangun koordinasi lintas perangkat daerah, sekaligus memastikan setiap program digital memberikan manfaat nyata.

Dalam konteks tersebut, pengalaman teknis, kemampuan manajerial, integritas, dan visi pengembangan organisasi menjadi sejumlah aspek penting yang patut diperhitungkan.

Bagi Tb Sofat, optimisme menjadi modal untuk menghadapi persaingan. Namun, keputusan akhir tetap berada pada mekanisme penilaian dan kewenangan pejabat pembina kepegawaian sesuai ketentuan yang berlaku.

Persaingan tiga kandidat ini pada akhirnya bukan semata tentang siapa yang akan memperoleh jabatan. Lebih dari itu, publik menunggu siapa figur yang mampu membawa Diskominfo Cilegon bekerja lebih adaptif, profesional, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat di tengah percepatan transformasi digital.

(Alfa/Red*)