Banjir Ciwandan Rendam Ribuan Rumah, DPRD Cilegon Soroti Pagar Kawasan Industri

banner 120x600

CILEGON, WILIP.ID – Banjir besar kembali melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon. Sedikitnya seribu rumah warga terendam air dengan ketinggian mencapai sekitar 150 sentimeter. Peristiwa ini disebut sebagai banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Komisi I DPRD Kota Cilegon, Ahmad Hafid, mengatakan dirinya turun langsung ke lokasi banjir untuk memastikan kondisi warga terdampak. Ia mengaku berada di lokasi sejak malam hingga dini hari.

“Saya cek langsung semalam, dari jam tujuh malam sampai jam tiga pagi. Ketinggian air kurang lebih 150 sentimeter dan ini termasuk banjir yang paling parah,” kata Ahmad Hafid, Jumat malam (2/1/2026).

Hafid menyebut, kawasan terdampak banjir meliputi lingkungan Kebanjiran, Penauan, Pintu Air, Kubang Belut, hingga Samang Raya. Sedikitnya dua kelurahan di Kecamatan Ciwandan mengalami dampak serius.

“Kurang lebih ada seribu kepala keluarga yang terdampak. Air bukan hanya menggenangi jalan, tapi sudah masuk ke rumah warga,” ujarnya.

Menurut Hafid, banjir kali ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyoroti keberadaan pagar kawasan industri yang diduga menghambat aliran air dan memperparah genangan.

“Dulu sebelum ada pagar kawasan industri, memang ada banjir, tapi tidak separah sekarang. Biasanya hanya di jalan. Sekarang air justru balik ke pemukiman warga,” jelasnya.

Ia menilai pembangunan pabrik di kawasan industri telah menghilangkan jalur alami aliran air dan ruang resapan.

“Sejak dulu aliran air itu menuju kawasan KS dan KS Pusco. Ketika kawasan itu dipenuhi bangunan pabrik, air kehilangan jalur dan akhirnya kembali ke pemukiman,” katanya.

Atas kondisi tersebut, Hafid menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Bisa dikatakan Amdalnya tidak sesuai. Ini harus dikaji ulang,” tegasnya.

Selain meninjau lokasi, Komisi I DPRD Cilegon bersama unsur fraksi juga menyalurkan bantuan darurat berupa logistik serta bantuan uang tunai sebesar Rp11 juta kepada warga terdampak.

“Bantuan ini bentuk kepedulian. Tapi yang jauh lebih penting, pemerintah harus hadir dengan solusi jangka panjang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, warga meminta agar pagar kawasan industri dibongkar atau setidaknya disediakan solusi teknis seperti drainase, kolam penampungan air, atau sistem pengendalian banjir.

“Kalau pagar tidak dirobohkan, harus ada solusi nyata. Jangan sampai warga terus jadi korban setiap musim hujan,” kata Hafid.

DPRD Cilegon, lanjut Hafid, akan segera menggelar rapat dengar pendapat (hearing) dengan pihak pengelola kawasan industri serta perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah terdampak.

“Surat hearing sebenarnya sudah masuk sebelum tahun baru. Dengan kejadian ini, urgensinya makin tinggi. Kita akan panggil semua pihak terkait,” ujarnya.

Ia mengingatkan, tanpa langkah konkret dan evaluasi kebijakan tata ruang, banjir di Ciwandan berpotensi terus berulang.

“Kalau tidak segera dicarikan solusi, kejadian seperti ini akan terus terjadi dan warga selalu jadi korban,” pungkasnya.

 

(Rais/Red*)