Camat Cibeber Serukan Warga Waspada DBD, Ancaman Nyamuk Mengintai Pagi dan Sore Hari

banner 120x600

CILEGON, WILIP.ID – Memasuki puncak musim hujan, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali membayangi warga Kecamatan Cibeber. Camat Cibeber, Sofan Maksudi, secara tegas mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu.

“Bapak dan Ibu warga Kecamatan Cibeber, waspada demam berdarah yang mulai menjangkit. Nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit terutama pada pagi dan sore hari. Jangan lengah, karena satu gigitan bisa berujung fatal,” tegas Sofan Maksudi, Senin (9/2/2026).

Dalam penjelasannya, Sofan mengungkapkan bahwa DBD memiliki pola serangan yang kerap tidak disadari. Setelah digigit nyamuk, gejala penyakit biasanya baru muncul 4 hingga 10 hari kemudian. Di fase awal, pasien hanya merasakan demam tinggi, nyeri kepala, dan pegal-pegal—sering kali disangka flu biasa.

Padahal, fase paling berbahaya justru terjadi saat demam mulai turun, yakni pada hari ke-3 hingga ke-7. Pada fase ini, penderita berisiko mengalami kebocoran plasma darah yang bisa memicu syok dan berujung kematian jika tidak segera ditangani.

“Banyak yang salah kaprah. Saat demam turun, dikira sembuh, padahal itulah fase kritis DBD. Ini yang sering menyebabkan keterlambatan penanganan,” ujarnya.

Sofan menegaskan bahwa musim hujan menjadi “karpet merah” bagi nyamuk berkembang biak. Genangan air di ember, talang, pot bunga, hingga barang bekas menjadi sarang ideal Aedes aegypti. Karena itu, ia mengajak warga kembali menggiatkan Gerakan 3M Plus:

Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang tempat penampungan air, ditambah langkah pencegahan lain seperti menggunakan lotion anti nyamuk, memasang kelambu, serta fogging bila diperlukan.

“DBD bukan hanya urusan puskesmas atau pemerintah. Ini tanggung jawab kolektif. Satu rumah lalai, satu lingkungan bisa terdampak,” tandasnya.

Camat Cibeber berharap masyarakat tidak menunggu jatuhnya korban baru bergerak. Kesadaran dan disiplin menjaga lingkungan menjadi kunci utama memutus rantai penularan.

“Salam Waspada DBD. Lindungi keluarga, lindungi Cibeber,” tutup Sofan Maksudi.

 

(Pis/Red*)