CILEGON, WILIP.ID – Masjid Asyuhada di Kota Cilegon berpeluang dikembangkan menjadi destinasi wisata religi melalui pembangunan menara berlift. Gagasan yang didorong Camat Cilegon Maman Herman ini diharapkan tidak hanya memperkuat fungsi masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Maman menyampaikan gagasan tersebut saat mengunjungi Masjid Asyuhada bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jumat (16/10/2026), setelah salat Jumat berjemaah.
Menurut Maman, posisi masjid di kawasan berketinggian memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata religi. Dari menara pandang, pengunjung diharapkan dapat menikmati panorama Kota Cilegon hingga kawasan pesisir.
Keberadaan lift juga dinilai penting untuk memudahkan akses ke puncak menara, termasuk bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan dalam menaiki tangga.
Gagasan itu terinspirasi dari pengelolaan sejumlah masjid di luar daerah yang dilengkapi fasilitas pendukung, seperti menara pandang, perpustakaan, dan teropong untuk menikmati panorama dari ketinggian.
Namun, potensi tersebut perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan matang agar pembangunan tidak berhenti sebatas gagasan.
Pengembangan menara Masjid Asyuhada berpotensi menciptakan peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Meningkatnya kunjungan wisatawan dapat menggerakkan UMKM, warung makan, kedai kopi, hingga pedagang di kawasan masjid.
Agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga, pengembangan kawasan perlu disertai penataan fasilitas, akses pengunjung, kebersihan, dan pola pengelolaan yang profesional.
Dengan konsep yang tepat, masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang interaksi sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketua Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Cilegon, Dr. H. Agus Hasan Setiawan, M.M., mendukung gagasan tersebut. Ia mendorong pembentukan panitia yang melibatkan berbagai unsur agar rencana pembangunan segera memasuki tahap persiapan.
Menurut Agus, pembangunan menara berlift merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan keterlibatan tenaga ahli, konsultan, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), serta pihak eksternal yang memiliki kompetensi.
“Kalau saya setuju, bagaimana kalau segera saja dibentuk panitia. Panitianya jangan internal saja, karena ini pekerjaan besar,” demikian inti pernyataan Agus dalam pertemuan tersebut.
Ia juga mendorong penyusunan desain, penghitungan anggaran, penentuan lokasi menara, serta kajian kondisi lahan dan akses pengunjung. Dokumen teknis tersebut diperlukan untuk menentukan kelayakan pembangunan dan menjadi dasar menjajaki dukungan pendanaan dari masyarakat maupun perusahaan.
Dukungan juga disampaikan tokoh masyarakat Kompleks BBS, Amal Irfanuddin. Ia menilai, pengembangan Masjid Asyuhada perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk kalangan pengusaha yang memiliki sumber daya untuk mendukung realisasi pembangunan.
Amal berharap koordinasi antara pengurus masjid, masyarakat, dan pemangku kepentingan dapat diperkuat. Pengembangan juga perlu dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan pendanaan dan kesiapan pengelolaan.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu pembangunan fisik, tetapi juga memastikan fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Di balik potensi wisata dan ekonomi, pembangunan menara berlift membutuhkan kajian kelayakan yang menyeluruh. Aspek keselamatan konstruksi, spesifikasi lift, sistem evakuasi, kebutuhan listrik, serta biaya operasional dan pemeliharaan harus diperhitungkan sejak awal.
Transparansi anggaran juga menjadi hal penting, terutama jika pembangunan mengandalkan dukungan masyarakat dan perusahaan. Penghimpunan serta penggunaan dana perlu dilakukan melalui mekanisme yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Gagasan Maman Herman membuka peluang bagi Masjid Asyuhada untuk berkembang menjadi destinasi wisata religi sekaligus penggerak ekonomi warga. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari kemegahan menara atau jumlah pengunjung, melainkan dari manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat sekitar.
Pembentukan panitia, penyusunan desain, penghitungan anggaran, dan kajian teknis kini menjadi langkah awal yang menentukan. Dengan perencanaan matang dan kolaborasi lintas pihak, menara Masjid Asyuhada berpeluang menjadi aset sosial, spiritual, dan ekonomi bagi Kota Cilegon.
(Has/Red*)















