CILEGON, WILIP.ID – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Cilegon tengah menyiapkan konsep besar pengembangan perpustakaan daerah menjadi pusat literasi modern yang tidak sekadar menyediakan buku, tetapi juga menghadirkan ruang edukasi, teknologi digital, hingga fasilitas ramah disabilitas.
Kepala DPK Kota Cilegon, Dr. H. Ismatullah, S.Pd., M.Pd., mengatakan gedung perpustakaan baru yang saat ini telah selesai dibangun akan dikembangkan secara bertahap hingga beberapa tahun ke depan. Penyempurnaan sarana dan prasarana ditargetkan rampung secara penuh dalam kurun waktu sekitar tiga tahun.
“Gedungnya sudah selesai dibangun, tetapi untuk penyempurnaan fasilitasnya akan dilakukan bertahap. Insyaallah dalam beberapa tahun ke depan konsep perpustakaan modern ini bisa benar-benar tuntas,” ujar Ismatullah, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, konsep perpustakaan yang disiapkan tidak lagi sekadar ruang baca konvensional. Perpustakaan Cilegon akan dirancang menyerupai pusat literasi modern seperti perpustakaan nasional, yang dilengkapi berbagai fasilitas edukatif dan interaktif.
Salah satu konsep yang akan dihadirkan adalah diorama sejarah yang menampilkan berbagai fakta dan peristiwa penting, baik tokoh nasional maupun tokoh daerah. Diorama tersebut akan dikemas secara visual, mulai dari tampilan tiga dimensi hingga format digital.
“Di bagian depan nanti ada diorama yang menampilkan sejarah dan tokoh-tokoh, sehingga ketika masyarakat masuk ke perpustakaan, mereka bisa langsung melihat gambaran tentang Cilegon secara utuh,” katanya.
Selain itu, perpustakaan juga akan dilengkapi layanan buku digital yang memungkinkan pengunjung mengakses berbagai koleksi secara elektronik. Pengunjung nantinya dapat membuka halaman buku digital melalui layar interaktif maupun perangkat komputer yang tersedia.
Ismatullah mencontohkan konsep tersebut sudah lebih dahulu diterapkan di Perpustakaan Multatuli di Lebak, yang kini menjadi salah satu rujukan pengembangan perpustakaan digital di daerah.
“Perpustakaan digital itu tidak perlu ruang besar, tetapi aksesnya luas. Pengunjung bisa membuka berbagai koleksi secara digital. Untuk Cilegon, layanan ini sudah mulai berjalan, tetapi koleksi buku digitalnya masih akan kita lengkapi ke depan,” ujarnya.
Tak hanya itu, DPK Cilegon juga menyiapkan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas. Menurut Ismatullah, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah sekolah khusus (SKH) untuk mengetahui kebutuhan penyandang disabilitas agar layanan perpustakaan benar-benar inklusif.
“Kita sudah mengundang teman-teman dari sekolah khusus untuk melihat langsung fasilitas yang akan disiapkan. Dari situ kita belajar bahwa kebutuhan disabilitas itu sangat beragam,” katanya.
Sebagai bagian dari layanan tersebut, perpustakaan nantinya juga akan menyediakan koleksi buku Braille bagi penyandang tunanetra, serta fasilitas yang memudahkan penyandang disabilitas lainnya mengakses informasi.
DPK juga merancang mini teater yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi sekaligus hiburan bagi pengunjung. Mini teater itu nantinya dapat digunakan untuk menonton film edukatif, pemutaran video informasi, hingga menyaksikan berbagai konten digital.
“Mini teater ini bisa menjadi ruang bersama. Orang bisa menonton film, melihat informasi, bahkan mengikuti perkembangan berita melalui internet dari perpustakaan,” jelasnya.
Selain fasilitas digital, perpustakaan juga akan dilengkapi ruang baca anak yang dirancang lebih atraktif agar anak-anak merasa nyaman berkunjung ke perpustakaan.
Di ruang tersebut, anak-anak tidak hanya membaca buku bergambar, tetapi juga dapat bermain sambil belajar. Beberapa buku bahkan akan dilengkapi teknologi barcode yang dapat dipindai melalui ponsel sehingga menampilkan konten video atau visual pendukung.
“Anak-anak kita buat betah dulu di perpustakaan. Ada ruang bermain, buku bergambar, bahkan bisa di-scan dengan barcode sehingga muncul video di HP orang tuanya,” ujarnya.
Untuk memperluas fungsi literasi, DPK Cilegon juga menyiapkan ruang konsultasi literasi bagi masyarakat yang ingin menulis buku atau mengembangkan karya tulis.
Selain itu, tersedia pula pojok literasi wanita, yang disiapkan sebagai ruang khusus bagi perempuan yang ingin membaca atau berdiskusi dalam suasana yang lebih nyaman.
Konsep ruang tematik juga akan dikembangkan, seperti pojok literasi daerah yang menampilkan kekayaan budaya lokal.
“Gedung ini cukup luas, sekitar 1.600 meter persegi. Jadi kita bisa membuat berbagai pojok literasi tematik untuk memperkaya pengalaman membaca,” kata Ismatullah.
Di bagian atas gedung, DPK juga menyiapkan ruang terbuka (outdoor) yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seni dan literasi, seperti pembacaan puisi, diskusi sastra, hingga pertunjukan komunitas.
Kegiatan tersebut rencananya akan melibatkan komunitas literasi dan sekolah di Kota Cilegon.
“Kalau ada penyair atau komunitas yang ingin menampilkan karya, kita bisa buat jadwal di ruang outdoor itu. Jadi perpustakaan tidak hanya tempat membaca, tetapi juga ruang ekspresi budaya,” ujarnya.
Tak kalah penting, perpustakaan juga akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti musala, toilet ramah disabilitas, dapur kecil, hingga sistem keamanan yang lebih profesional.
Menurut Ismatullah, standar keamanan tersebut penting untuk menjaga koleksi perpustakaan sekaligus memberikan rasa aman bagi pengunjung.
“Kita ingin pelayanan perpustakaan ini benar-benar profesional. Keamanan, kebersihan, dan kenyamanan pengunjung harus menjadi prioritas,” katanya.
Dengan konsep tersebut, DPK berharap perpustakaan daerah dapat berkembang menjadi pusat literasi, edukasi, sekaligus ruang publik kreatif bagi masyarakat Kota Cilegon.
“Harapan kami, perpustakaan ini tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga pusat pengetahuan, tempat belajar, berkarya, dan bertukar gagasan bagi masyarakat,” ujar Ismatullah.
(Has/Red*)















