Gen Z Makin Pilih Nikah di KUA, Bukan Gengsi tapi Masa Depan

JAKARTA, WILIP.ID — Pernikahan tak lagi selalu identik dengan gedung megah, pelaminan mewah, ratusan tamu, dan pesta yang menghabiskan biaya besar.

Di tengah tekanan biaya hidup dan kebutuhan membangun kehidupan setelah menikah, sebagian generasi Z justru mulai mengubah cara pandang. Bagi mereka, yang penting bukan seberapa besar pesta digelar, melainkan bagaimana kehidupan setelah ijab kabul bisa dijalani dengan lebih tenang.

Fenomena itu salah satunya terlihat di Kantor Urusan Agama (KUA) Tebet, Jakarta Selatan. Kepala KUA Tebet, Nasrulloh, menyebut terjadi peningkatan proporsi pasangan yang memilih melangsungkan akad nikah di KUA sepanjang 2026.

Jika sebelumnya sekitar 20 persen pasangan menikah di KUA dan 80 persen melangsungkan akad di luar KUA, tahun ini proporsinya berubah menjadi 40 persen menikah di KUA dan 60 persen di luar KUA.

Menurut Nasrulloh, mayoritas pasangan yang memilih menikah di KUA berasal dari kalangan Gen Z.

Angka tersebut memang merupakan gambaran di KUA Tebet, bukan statistik nasional. Namun, kecenderungannya sejalan dengan hasil survei Jakpat yang menunjukkan adanya perhatian generasi muda terhadap konsep pernikahan yang lebih sederhana.

Dalam laporan Jakpat 2025, 45 persen responden memilih konsep pernikahan sederhana. Dalam aspek kesiapan finansial, 76 persen responden menyebut kesiapan keuangan sebagai salah satu faktor penting sebelum menikah. Sementara itu, ketika memiliki dana lebih, prioritas yang banyak dipilih adalah investasi jangka panjang, tabungan tempat tinggal, dan modal usaha.

Bukan Sekadar Hemat

Menikah di KUA juga bukan semata-mata soal menghindari biaya pesta.

Bagi sebagian pasangan muda, keputusan tersebut merupakan cara mengatur ulang prioritas. Uang yang sebelumnya mungkin dialokasikan untuk gedung, dekorasi, katering hingga pesta besar dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lebih panjang: tempat tinggal, tabungan, usaha, investasi, atau kebutuhan rumah tangga.

Penghulu KUA Setiabudi, Abdul Hamid, melihat kecenderungan serupa. Menurut dia, karakter sebagian Gen Z yang menyukai sesuatu yang praktis menjadi salah satu faktor yang mendorong pilihan tersebut.

Selain faktor kepraktisan, kondisi ekonomi juga ikut menjadi pertimbangan.

Hamid menyebut ada pasangan yang memilih menyimpan uang untuk kebutuhan setelah menikah, termasuk untuk bulan madu, membangun usaha, hingga membeli rumah atau properti.

Secara aturan, akad nikah di KUA pada hari dan jam kerja tidak dikenakan biaya. Sementara akad yang dilaksanakan di luar KUA atau di luar jam kerja dikenakan biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp600 ribu. Pasangan juga tetap harus memenuhi persyaratan dan melakukan pendaftaran sesuai ketentuan.

Ketika Gengsi Mulai Bergeser

Pernikahan bagi generasi sebelumnya mungkin kerap dipandang sebagai momentum yang harus dirayakan semeriah mungkin. Semakin besar pesta, semakin banyak tamu, dan semakin megah tempatnya, semakin kuat pula kesan bahwa sebuah pernikahan merupakan peristiwa besar.

Namun, bagi sebagian anak muda hari ini, ukuran kebahagiaan mulai bergeser.

Bukan berarti mereka menolak pesta atau tradisi. Sebagian tetap ingin merayakan hari bahagia bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Hanya saja, skala dan bentuk perayaannya dapat disesuaikan dengan kemampuan serta prioritas masing-masing.

Survei Jakpat juga menunjukkan bahwa pilihan konsep pernikahan generasi muda cukup beragam. Artinya, fenomena pernikahan sederhana tidak dapat dimaknai sebagai seluruh Gen Z meninggalkan pesta pernikahan. Sebaliknya, pilihan mereka semakin beragam dan sangat dipengaruhi pertimbangan finansial, keluarga, budaya, serta rencana kehidupan setelah menikah.

Pada akhirnya, pernikahan bukan perlombaan tentang siapa yang paling mewah menggelar pesta.

Ada pasangan yang memilih gedung besar. Ada yang memilih halaman rumah. Ada pula yang merasa cukup dengan akad sederhana di KUA.

Yang membedakan bukan besarnya acara, melainkan bagaimana pasangan tersebut mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Sebab setelah dekorasi dibongkar, tamu pulang, foto pernikahan tersimpan di galeri ponsel, kehidupan sebenarnya baru dimulai.

Di titik itulah sebagian Gen Z tampaknya mulai menghitung ulang: lebih penting menghabiskan uang untuk satu hari pesta, atau menyiapkannya untuk bertahun-tahun kehidupan bersama?

Jawabannya tentu berbeda bagi setiap pasangan.

Namun satu hal semakin terlihat: bagi sebagian generasi muda, hidup tenang dan masa depan yang lebih terencana mulai dianggap lebih penting daripada sekadar terlihat mewah di hari pernikahan.

Source : Instagram kawanhawa