Kodim 0623/Cilegon Bangun Jembatan Garuda di Ciwandan, Warga Sambut Baik Penggantian Akses yang Rusak

CILEGON, WILIP.ID – Upaya meningkatkan keselamatan dan konektivitas warga terus dilakukan di wilayah Kecamatan Ciwandan. Salah satunya melalui pembangunan Jembatan Garuda di Lingkungan Linggar Jati, Kelurahan Kepuh, yang resmi dimulai oleh Kodim 0623/Cilegon pada Selasa (9/6/2026).

Pembangunan jembatan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Komandan Kodim (Dandim) 0623/Cilegon Letkol Inf Imam Buchori bersama unsur pemerintah daerah, kepolisian, tokoh masyarakat, serta perwakilan dunia usaha.

Jembatan Garuda yang selama ini menjadi urat nadi penghubung antara Kelurahan Kepuh dan Kelurahan Randakari diketahui telah mengalami kerusakan cukup parah. Usianya yang mendekati dua dekade membuat struktur bangunan tidak lagi mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat yang setiap hari melintasinya.

“Struktur jembatan sudah tua dan memerlukan perbaikan segera agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman,” ujar Letkol Inf Imam Buchori saat kegiatan berlangsung.

Menurutnya, pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari program rehabilitasi infrastruktur yang saat ini dilakukan secara bersamaan di tiga titik wilayah Kota Cilegon, yakni Kelurahan Kepuh, Pabean, dan Panggung Rawi.

Keberadaan jembatan baru dengan lebar sekitar tiga meter itu diharapkan mampu memperlancar mobilitas masyarakat sekaligus menekan risiko kecelakaan yang selama ini mengintai pengguna jalan, terutama para pelajar yang setiap hari menggunakan jalur tersebut untuk menuju sekolah.

Lebih dari sekadar sarana penghubung, Jembatan Garuda memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Jalur ini menjadi akses penting bagi distribusi hasil pertanian, peternakan, hingga usaha kecil yang berkembang di kawasan Linggar Jati dan sekitarnya.

Di mata warga, pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan jawaban atas kebutuhan yang telah lama dinantikan.

Tokoh masyarakat Linggar Jati, Mulyadi, mengungkapkan bahwa kondisi jembatan lama sudah bertahun-tahun menjadi keluhan warga. Kerusakan semakin parah setelah beberapa kali banjir menggerus bagian fondasi bangunan.

“Jembatan ini sebenarnya sudah tidak layak digunakan, tetapi warga tetap melintas karena menjadi akses terdekat,” katanya.

Menurut Mulyadi, jalur alternatif memang tersedia, namun mengharuskan warga menempuh jarak yang lebih jauh. Kondisi itu membuat masyarakat tetap menggunakan jembatan lama meskipun menyadari risiko yang dihadapi.

Karena itu, pembangunan jembatan beton yang lebih kokoh dan permanen dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Selain meningkatkan keselamatan, kehadiran jembatan baru diharapkan mampu mempercepat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.

Pemerintah bersama TNI menargetkan proses pembangunan dapat diselesaikan sesuai jadwal sehingga masyarakat kembali memiliki akses yang aman, nyaman, dan layak untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari.

Pembangunan Jembatan Garuda juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara TNI, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan dasar warga. Di tengah pesatnya pembangunan Kota Cilegon sebagai kawasan industri, pemerataan infrastruktur lingkungan tetap menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan.

(Has/Red*)