CILEGON, WILIP.ID – Kinerja keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) pada 2025 menunjukkan pembalikan arah yang signifikan. Setelah mencatatkan rugi bersih sebesar 154,7 juta dolar AS atau setara Rp2,49 triliun pada 2024, perusahaan baja pelat merah ini berhasil membukukan laba bersih sebesar 339,64 juta dolar AS atau sekitar Rp5,68 triliun pada tahun berikutnya.
Namun, di balik lonjakan laba tersebut, terdapat catatan penting. Sebagian besar keuntungan berasal dari accounting gain atau keuntungan buku, hasil dari keberhasilan program restrukturisasi utang yang dijalankan secara komprehensif. Artinya, perbaikan ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental operasional, melainkan lebih pada penyesuaian struktur keuangan.
Pada Sabtu, 4 April 2026, dalam keterangan pers yang diterima wilip.id, capaian ini turut mendapat respons dari berbagai kalangan di daerah.
Di tingkat lokal, capaian ini tetap menuai apresiasi. Majelis Daerah Korps Alumni HMI (MD KAHMI) Kota Cilegon menilai tren positif tersebut sebagai indikasi keseriusan manajemen dalam membenahi perusahaan. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Akbar Djohan, Krakatau Steel dinilai mulai menemukan momentum untuk bangkit dari tekanan panjang industri baja nasional.
“Keberhasilan ini merupakan representasi dari kerja keras dan keseriusan manajemen dalam mengembalikan marwah Krakatau Steel sebagai tulang punggung industri baja nasional,” ujar Bendahara Umum MD KAHMI Cilegon, Arief Rachman Elchair.
Arief menegaskan, Krakatau Steel bukan sekadar entitas bisnis, melainkan bagian dari sejarah industrialisasi Indonesia, khususnya bagi masyarakat Cilegon. Dengan dukungan sumber daya material, tenaga kerja, serta pasar domestik yang besar, perusahaan ini dinilai memiliki seluruh prasyarat untuk kembali kompetitif.
Data proyeksi menunjukkan kebutuhan baja domestik pada 2026 diperkirakan melampaui 17 juta ton. Angka ini menjadi peluang besar yang, menurut Arief, harus dijawab dengan kebijakan pemerintah yang berpihak. “Diperlukan political will untuk melindungi pasar dalam negeri agar Krakatau Steel mampu menjadi market leader,” katanya.
Meski demikian, pekerjaan rumah perusahaan belum selesai. Tantangan internal, terutama terkait budaya kerja dan produktivitas karyawan, masih menjadi sorotan. Arief mengingatkan bahwa salah satu penyebab keterpurukan Krakatau Steel di masa lalu adalah lemahnya disiplin kerja, rendahnya produktivitas, serta minimnya sensitivitas terhadap masa depan perusahaan.
Karena itu, ia berharap manajemen dapat menjaga ritme perbaikan sekaligus memperkuat profesionalisme di semua lini. “Kepemimpinan yang kuat harus diiringi dengan perubahan kultur kerja. Tanpa itu, kebangkitan ini bisa bersifat sementara,” ujarnya.
Di tengah optimisme yang mulai tumbuh, Krakatau Steel kini berada di persimpangan: melanjutkan momentum menuju pemulihan berkelanjutan, atau kembali terjebak dalam perbaikan semu berbasis akuntansi. Pilihan itu, pada akhirnya, akan ditentukan oleh konsistensi manajemen, dukungan kebijakan, dan kesiapan internal perusahaan menghadapi pasar yang semakin kompetitif.
(Has/Red*)















