BANTEN, WILIP.ID – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) bergerak cepat merespons laporan masyarakat terkait dugaan bahan bakar minyak (BBM) bermasalah di salah satu Pertashop di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Langkah tegas langsung diambil: operasional Pertashop tersebut dihentikan sementara.
Keputusan itu mulai berlaku sejak Rabu malam, 25 Maret 2026. Penghentian dilakukan sebagai bagian dari upaya investigasi menyeluruh guna mengungkap penyebab pasti gangguan yang dialami sejumlah kendaraan usai pengisian BBM di lokasi tersebut.
“Ini bentuk komitmen kami dalam memastikan kualitas BBM tetap terjaga dan masyarakat terlindungi,” demikian disampaikan Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Susanto August Satria, dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Dampak kejadian ini tidak kecil. Hingga Jumat (27/3), tercatat sedikitnya 38 kendaraan roda dua mengalami gangguan teknis. Seluruh kendaraan terdampak kini telah diarahkan ke bengkel yang ditunjuk untuk menjalani pemeriksaan dan perbaikan.
Pertamina memastikan proses penanganan dilakukan secara bertanggung jawab, sekaligus meminimalisir kerugian yang dialami konsumen. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik terhadap distribusi energi nasional.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga JBB menegaskan tengah melakukan investigasi komprehensif. Tidak hanya menelusuri aspek kualitas BBM, tetapi juga kemungkinan adanya kelalaian dalam rantai distribusi, termasuk dari pihak lembaga penyalur maupun transportir.
Jika terbukti terjadi pelanggaran, Pertamina memastikan tidak akan ragu menjatuhkan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku. “Tidak ada kompromi untuk hal yang menyangkut kualitas dan keselamatan konsumen,” tegasnya.
Untuk meredam kekhawatiran masyarakat, Pertamina juga memastikan bahwa insiden ini bersifat lokal. Tidak ditemukan kasus serupa di lembaga penyalur BBM lainnya di wilayah Mancak, Serang.
Pengawasan internal pun diperketat. Pertamina meminta seluruh mitra lembaga penyalur untuk disiplin menjalankan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Kasus ini menjadi ujian bagi Pertamina dalam menjaga reputasi sekaligus kepercayaan masyarakat. Transparansi investigasi dan ketegasan dalam penindakan menjadi kunci.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi masyarakat, kualitas BBM bukan sekadar layanan, tetapi menyangkut keamanan dan kenyamanan publik. Pertamina dituntut tidak hanya responsif, tetapi juga preventif agar kejadian serupa tidak terulang.
Langkah penghentian sementara ini menjadi sinyal bahwa pengawasan distribusi BBM tak boleh longgar—karena satu titik masalah bisa berdampak luas.
(Has/Red*)















