CILEGON, WILIP.ID – Kerugian yang dialami PT Krakatau Steel (KRAS) dinilai tak lagi bisa hanya dikaitkan dengan persoalan tata kelola perusahaan. Dekan FT Universitas Al-Khairiyah (UNIVAL), Juju Adhiwikarta, menilai bahwa akar masalah justru lebih dalam: budaya korupsi yang mengakar dan tak kunjung tuntas.
Pernyataan ini menanggapi kajian pengamat ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Hadi Sutjipto, yang sebelumnya menyebut kerugian KRAS lebih disebabkan oleh lemahnya tata kelola bisnis yang tak mampu menopang beban keuangan perusahaan.
Namun bagi Juju, analisa tersebut baru menyentuh permukaan.
“Masalah KRAS bukan semata soal tata kelola, tapi ada ‘penyakit kronis’ bernama budaya korupsi yang tak pernah sungguh-sungguh diberantas. Ini penyumbang kerugian terbesar dan paling signifikan,” tegas Juju berdasarkan keterangan pers yang di terima redaksi wilip.id, Rabu, 30 Juli 2025.
Rekam Jejak Kelam: Dari Proyek Mangkrak hingga Dugaan Manipulasi Aset
KRAS menyimpan jejak kelam dalam sejumlah proyek gagal. Skandal pembangunan pabrik Blast Furnace Complex (BFC) senilai Rp6,5 triliun, menjadi simbol kegagalan manajemen yang membebani perusahaan hingga hari ini.
Belum lagi kegagalan revitalisasi produksi HSM dan SSP, mandeknya proyek PT Meratus Jaya Iron & Steel di Kalimantan Selatan yang sudah tak berproduksi sejak 2015, dan proyek besi spons yang berujung buntu.
Tak berhenti di sana, Juju juga menyinggung dugaan rekayasa penjualan anak usaha. Perusahaan seperti KTI dan KDL, menurutnya, terlebih dahulu “diturunkan statusnya” dari anak perusahaan menjadi cucu perusahaan sebelum dijual ke pihak swasta. Pola ini disebutnya misterius dan rawan menimbulkan masalah hukum di masa depan.
Peringatan Keras untuk Investor dan Pemerintah
Melihat pola ini, Juju mengingatkan publik agar tidak terlalu euforia dalam menyambut pergerakan saham KRAS di pasar modal. Pemerintah pun diminta waspada.
“BPI Danantara harus ekstra hati-hati jika ingin menyalurkan dana segar ke KRAS. Jangan sampai ibarat menyiram garam ke samudera,” katanya mengingatkan.
Ia menyoroti potensi penyalahgunaan dana jika sistem pengawasan masih lemah, apalagi bila budaya korupsi belum benar-benar diberantas di tubuh perusahaan pelat merah itu.
Tiga Rekomendasi Kunci untuk KRAS
Jujur juga menyarankan langkah-langkah konkret agar KRAS bisa bangkit secara substansial, bukan sekadar menggiring opini pasar:
1. Konsolidasi anak-cucu perusahaan. KRAS perlu mendorong ekspansi dan pengembangan bisnis yang sah dan potensial, tak hanya bergantung pada induk usaha.
2. Evaluasi Joint Venture (JV). Beberapa kerja sama strategis, seperti dengan PT Krakatau Posco, harus dikaji ulang jika terbukti merugikan.
3. Transformasi manajemen. Budaya manajemen yang feodal harus dirombak menjadi lebih dinamis, progresif, dan egaliter. Perusahaan tak boleh hanya menunggu peluang, tapi aktif menciptakannya.
“KRAS Butuh Treatment Khusus, Bukan Kosmetik Manajerial”
Menurut Juju, jika diibaratkan mobil, manajemen KRAS kini butuh “sopir” yang berani mengambil jalan berbeda, bukan hanya sekadar menjalankan fungsi administratif.
“Sudah saatnya KRAS tak lagi bermental ‘asal gugur kewajiban’, apalagi sekadar menyamarkan yang jelas dan menjelaskan yang kabur,” ujarnya tajam.
(Has/Red*)















