CILEGON, WILIP.ID — Keputusan produsen baja asal Jepang, Osaka Steel Co., Ltd., untuk menghentikan operasional anak usahanya di Indonesia, PT Krakatau Osaka Steel (KOS), mulai memantik kegelisahan kalangan industri di Kota Cilegon. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Cilegon menilai, kebijakan efisiensi proyek infrastruktur pemerintah pusat berpotensi menjadi pemicu utama melemahnya industri baja nasional.
Osaka Steel secara resmi memutuskan hengkang dari Indonesia setelah mencatatkan kerugian beruntun sejak 2022. Berdasarkan keputusan dewan direksi pada 23 Januari 2026, PT KOS akan menghentikan produksi pada 30 April 2026 dan membekukan operasional secara total pada 30 Juni 2026.
Perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan Osaka Steel ini memiliki struktur kepemilikan mayoritas Osaka Steel sebesar 86 persen, sementara KRAS menguasai 14 persen saham. Berbasis di Cilegon dengan modal disetor sekitar US$ 100 juta, KOS memproduksi baja profil dan reinforcing bars untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, terutama proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur.
KADIN: Industri Tertekan Akibat Pemangkasan Proyek Infrastruktur
Wakil Ketua KADIN Kota Cilegon, Mulyadi Sanusi atau yang akrab disapa Cak Moel, menilai rencana penutupan PT Osaka Steel tak bisa dilepaskan dari arah kebijakan pemerintah pusat yang memangkas anggaran infrastruktur.
Menurutnya, industri baja sangat bergantung pada keberlanjutan proyek pembangunan nasional. Ketika belanja infrastruktur ditekan, maka permintaan baja otomatis ikut melemah.
“Saya membaca bahwa alasan Osaka itu karena adanya kebijakan efisiensi proyek-proyek infrastruktur dari pemerintah pusat, sehingga pesanan baja menurun. Kalau pesanan turun, tentu pemasukan perusahaan juga ikut merosot,” ujar Cak Moel, Jumat (30/1/2026).
Ia menegaskan, kondisi ini harus menjadi alarm serius bagi pemerintah. Pasalnya, sektor baja bukan hanya menyangkut industri, tetapi juga menyangkut tenaga kerja, investasi, dan stabilitas ekonomi daerah, khususnya di kawasan industri seperti Cilegon.
“Industri baja ini tulang punggung kawasan industri berat. Kalau satu pabrik besar goyah atau tutup, dampaknya berlapis—mulai dari buruh, kontraktor, sampai UMKM pendukungnya,” tegasnya.
Investor Diundang, Industri Eksisting Justru Tertekan
Cak Moel juga mengingatkan agar pemerintah pusat konsisten antara narasi menarik investor baru dan menjaga keberlangsungan industri yang sudah ada.
“Yang selalu digadang-gadang pemerintah pusat adalah bagaimana menarik investor agar datang ke Indonesia. Tapi kalau regulasinya justru membuat industri yang sudah ada tertekan, ini jadi kontraproduktif,” katanya.
Menurutnya, kebijakan efisiensi memang diperlukan untuk menjaga fiskal negara, tetapi tidak boleh mengorbankan sektor strategis yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
“Kalau infrastruktur dipangkas, pabrik baja kehilangan pasar. Kalau pabrik tutup, dampaknya jelas: pengangguran akan meningkat,” ucap Cak Moel.
Dorong Dialog Industri dan Pemerintah Pusat
KADIN Kota Cilegon, lanjut Cak Moel, mendorong agar pemerintah pusat membuka ruang dialog yang lebih intensif dengan pelaku industri baja sebelum menerapkan kebijakan yang berdampak luas.
“Kami dari KADIN ingin ada ruang diskusi antara industri baja dan pemerintah pusat. Kalau ada regulasi yang memberatkan, sebaiknya dibicarakan dan diperbaiki,” ujarnya.
Ia menilai, keberlanjutan proyek infrastruktur bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menjadi jaminan keberlangsungan industri dan lapangan kerja.
“Kalau infrastruktur terus berjalan, industri hidup, tenaga kerja terserap, dan ekonomi daerah ikut bergerak. Ini yang harus dijaga,” pungkasnya.
Isu penutupan PT Krakatau Osaka Steel kini menjadi perhatian serius dunia usaha di Cilegon. KADIN berharap, kebijakan nasional ke depan mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi fiskal dan keberlangsungan industri strategis, agar Indonesia tetap menjadi rumah yang ramah bagi investasi dan tenaga kerja.
(Has/Red*)















