Oleh : Alwiyan Rakjay Biasa / Pimpinan Pondok Pesantren Al Khairiyah
Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya dengan keteraturan, tiada yang saling bertabrakan dan tiadalah Allah sia-sia menciptakan semuanya. Jika kemudian ada manusia yang menilai ciptaan Allah ada yang cacat atau tidak sempurna dan saling bertabrakan, maka yang perlu dikoreksi bukanlah kemaha-kuasaan Allah tapi kemampuan dan cara manusia menilai dan memahaminya memiliki keterbatasan dan kelemahan pengetahuan. Semua yang Allah ciptakan adalah rahmat kasih sayang Allah bagi ciptaanNya itu sendiri.
Allah Swt mengutus Nabi Muhammad pun sebagai rahmat bagi seluruh alam, beliau merupakan manusia yang diberikan otoritas untuk menjelaskan isi kandungan Alqur’an yang penuh hikmah. Misalnya, ketika Nabi Saw menjelaskan manakah kedudukan yang paling utama antara amaliyah dan rahmat kasih sayang Allah dalam menentukan seseorang masuk ke surga, sebagaimana hadits Rasulullah Saw :
لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ
“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim).
Maka tidak sedikit yang memahami secara tekstual tanpa logika dan penjelasan dari Alquran dan hadits lainnya sehingga hadits diatas terkesan kontradiktif menimbulkan tanda tanya karena dipandang bertabrakan dengan Alquran surat An-Nisa’ ayat 122 :
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ وَعْدَ اللّٰهِ حَقًّا ۗ وَمَنْ اَصْدَقُ مِنَ اللّٰهِ قِيْلًا
“Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”
Di ayat yang lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْۤ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf, Ayat 72).
Sebelum membahas lebih jauh untuk menemukan jawaban yang dipandang kontradiktif tersebut, kita harus terlebih dahulu memahami apa itu rahmat Allah ? Adalah kasih sayang Allah Yang Maha Kuasa yang diberikan kepada manusia dan mahluk-Nya, ada yang diberikan hanya di dunia saja, ada juga yang diberikan di dunia dan di akhirat. Diantara rahmat kasih sayang Allah yang dijadikan sebagai panduan ketaatan bagi orang-orang yang beriman di dunia adalah Alqur’an, Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كُنْتَ تَرْجُوْۤا اَنْ يُّلْقٰۤى اِلَيْكَ الْكِتٰبُ اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ ظَهِيْرًا لِّـلْكٰفِرِيْنَ
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir,” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 86)
Setiap muslim dan muslimah harus meyakini bahwa setiap pernyataan di dalam Alqur’an adalah bentuk rahmat kasih sayang Allah, keadilan Allah, ilmu Allah dan lain sebagainya. Diantara pernyataan Allah atas rahmat-Nya di dalam Alqur’an bagi manusia adalah “surga diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih” sebagaimana dalam surat An-nisa ayat 122 dan surat Az-Zukhruf Ayat 72 di atas.
Jika pernyataan Allah tentang “surga diperuntukan bagi orang-orang beriman dan mengerjakan amal shalih” adalah bentuk rahmat kasih sayang Allah, maka sabda Nabi Saw bahwa “bukanlah amaliyah yang memasukkan seseorang ke surga tapi rahmat kasih sayang Allah” maka tidaklah berbenturan dengan pernyataan Allah sebagaimana dalam surat An-nisa ayat 122 dan surat Az-Zukhruf Ayat 72 tapi justru sebagai penjelasan dan penegasan.
Andai tidak ada pernyataan Allah bahwa “surga diperuntukan bagi orang-orang beriman dan mengerjakan amal shalih” yang merupakan legitimasi dan rahmat kasih sayang Allah terhadap orang yang mengerjakan amal sholih maka tentu amaliyah menjadi sia-sia. Apa jadinya ketika mengerjakan amaliyah yang tidak diakui oleh Allah sebagai amal sholih karena tidak ada tuntunan dan tidak ada tuntutan ? Tentu amaliyah itu pun juga sia-sia.
Lalu bagaimana dengan orang-orang kafir dan yang dimurkai Allah lainnya dimasukan ke neraka selamanya ? Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَا رًا خَا لِدًا فِيْهَا ۖ وَلَهٗ عَذَا بٌ مُّهِيْنٌ
“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 14)
Apakah Allah kejam ? Itulah bentuk keadilan Allah. Pantaskah ketika orang yang shalih dengan orang yang kafir dan yang dimurkai Allah sama-sama diganjar masuk surga ? Tentu tidak tidak pantas dan tidak adil. Adapun jika Allah berkehendak memasukkan siapapun ke surga-Nya maka hal itu adalah hak prerogatif Allah dan hal itu tidak mengurangi hak orang-orang beriman dan beramal shalih sedikitpun, tak perlu protes.
Penutup, Andai Malaikat datang kepadaku dan memberi kabar bahwa aku masuk neraka selamanya, lalu bertanya kepadaku, apakah aku masih mau menyembah Allah ? Aku jawab dengan tegas dan mantap bahwa aku tetap menyembah dan memuji Allah karena Dialah dzat satu-satunya yang pantas dan yang berhak disembah dan dipuji, sedangkan aku diciptakan hanya sebatas mahluk dengan tugas menghamba tanpa protes. Hamba kok protes ?
Cilegon, 13 November 2025















