CILEGON, WILIP.ID — Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah mulai memanaskan mesin organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar XI tahun 2026. Tahapan menuju agenda besar organisasi Islam tertua di Banten itu kini memasuki fase konkret setelah digelarnya rapat pleno pengurus sekaligus pembentukan panitia penyelenggara Muktamar XI.
Rapat strategis tersebut berlangsung di Kantor PB Al-Khairiyah Citangkil, Rabu, 22 April 2026, dan dihadiri langsung Sekretaris Jenderal PB Al-Khairiyah, jajaran Wakil Ketua Umum, Wakil Sekjen, para ketua departemen hingga anggota pengurus harian. Suasana rapat berlangsung tertib, namun penuh dinamika dan semangat konsolidasi internal organisasi.
Muktamar XI bukan sekadar agenda lima tahunan biasa. Forum tertinggi organisasi ini diproyeksikan menjadi momentum besar untuk memperkuat silaturahmi keluarga besar Al-Khairiyah sekaligus merumuskan arah baru organisasi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua Umum PB Al-Khairiyah, KH Ali Mujahidin, S.HI., MM., MH, dalam arahannya menegaskan bahwa Muktamar XI harus menjadi ruang konsolidasi pemikiran dan penguatan peran strategis Al-Khairiyah bagi umat dan bangsa.
Menurutnya, Al-Khairiyah tidak boleh hanya hadir sebagai organisasi administratif, tetapi juga harus tampil sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.
“Momentum Muktamar XI harus menjadi penguat persatuan keluarga besar Al-Khairiyah sekaligus forum untuk merumuskan kebijakan organisasi ke depan demi kemajuan Al-Khairiyah,” tegas KH Ali Mujahidin.
Ia juga menekankan pentingnya penyelenggaraan muktamar yang berintegritas, transparan, dan membawa kemaslahatan luas. Hal itu dinilai penting agar forum besar organisasi tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan benar-benar melahirkan gagasan dan kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan umat.
Dalam rapat tersebut juga dipastikan bahwa Muktamar XI PB Al-Khairiyah akan digelar pada Jumat hingga Minggu, 16–18 Oktober 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Brigjen KH Syam’un.
Pemilihan lokasi itu dinilai memiliki nilai historis dan strategis bagi perjalanan organisasi Al-Khairiyah. Selain representatif untuk menampung peserta dari berbagai daerah, lokasi tersebut juga diharapkan mampu menunjang kenyamanan dan kelancaran seluruh rangkaian agenda muktamar.
Tak hanya membahas konsep dan lokasi pelaksanaan, rapat pleno juga menghasilkan keputusan penting terkait susunan inti kepanitiaan. Dr Rafiudin, M.Si dipercaya sebagai Steering Committee (SC) yang akan mengawal arah kebijakan strategis penyelenggaraan muktamar.
Sementara posisi Organizing Committee (OC) dipercayakan kepada Sayuti Zakaria, M.Pd yang akan bertanggung jawab terhadap aspek teknis dan operasional kegiatan.
Pembentukan kepanitiaan ini menjadi sinyal bahwa PB Al-Khairiyah ingin memastikan seluruh tahapan persiapan berjalan profesional, terukur, dan sesuai standar organisasi.
Di tengah derasnya tantangan dunia pendidikan, dakwah, hingga penguatan sumber daya manusia umat, Muktamar XI dipandang menjadi titik penting bagi Al-Khairiyah untuk melakukan reposisi peran organisasi agar tetap relevan dan progresif di masa depan.
Dengan dimulainya tahapan persiapan ini, publik kini menanti seperti apa arah baru yang akan dibawa Al-Khairiyah dalam Muktamar XI mendatang. Sebab lebih dari sekadar forum organisasi, muktamar ini diyakini akan menjadi penentu wajah dan gerak Al-Khairiyah untuk tahun-tahun berikutnya.
(Has/Red*)















