CILEGON, WILIP- Persoalan banjir di Kota Cilegon menjadi persoalan serius yang harus ditangani serius. Setiap memasuki musim hujan, banjir kerap melanda di banyak tempat.
Anggota DPRD Kota Cilegon Muhammad Ibrohim Aswadi menyatakan harus ada konsep yang jelas dalam pembangunan tata ruang kota dan kawasan industri terkait saluran pembuangan air hingga ke laut.
“Persoalan banjir, seperti di Ciwandan saja. Terjadi karena saluran air yang tertutup oleh aktifitas proyek pabrik. Sehingga air jadi terkurung dan sulit mencari jalan menuju laut,” kata lelaki yang akrab disapa MIA, Senin 5 Februari 2024.
Banjir yang melanda kecamatan Ciwandan, Grogol, dan Merak pada Sabtu, 4 Februari 2024 lalu, diperparah oleh aliran air yang terbendung oleh aktifitas kegiatan proyek pabrik.
“Kami mendesak agar pemerintah secara bersama sama dengan pihak steak holder lainya termasuk industri untuk duduk bersama, dalam rangka membuat konsep cepat blue print besar bagi penanganan dan penataan penanganan banjir yg sudah menjadi rutin ini secara terintegrasi dari hulu sampai ke hilirisasi,” kata MIA.
Ia melanjutkan, penataan infrastruktur saluran air atau drainase dibangun terintegrasi oleh aliran sungai besar menuju laut. Terutama pihak perusahaan di kawasan industri harus membangun saluran air menuju laut.
“Pembangunan cluster tandonisasi di 8 titik kecamatan sebagai selter kolam penampungan air sementara sebelum ke hilirisasi ke laut lepas juga perlu dibangun,” kata MIA.
Penanganan dan penataan pembangunan saluran air mulai dari zona hulu, seperti Lingkar selatan. Serta zona hilir yang meliputi lintasan rel kereta api, jalan nasional dan kawasan industrialisasi yang memakai fasilitas pantai laut lepas.
“Ini dilakukan agar aliran air mengalir dapat lancar ke laut lepas. Tidak kalah penting adalah perlu konsep blue print zonasi penghijauan sebagai baferzoon hutan lindung, baik di kawasan pemukiman ataupun di kawasan industri dan kawasan laut lepas,” kata MIA.















