Oleh: Eko Setiawan
Koordinator Wilayah (Korwil) Cilegon – Pemuda Berdampak
Ada yang keliru dengan cara sebagian anak muda memaknai perubahan. Kita begitu mudah mengkritik keadaan, lantang berkomentar di media sosial, tetapi sering kali gagap ketika diminta turun tangan. Kita ingin keadaan berubah, tetapi belum tentu bersedia menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Padahal, masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang paling keras berteriak dari pinggir lapangan, melainkan oleh mereka yang berani masuk ke arena, mengambil risiko, bekerja, dan menanggung konsekuensi.
Pemuda hari ini tidak boleh sekadar menjadi penonton. Mereka harus menjadi pemain.
Saya kerap mengibaratkan kehidupan seperti pertandingan sepak bola. Suporter boleh bersorak, mengkritik pelatih, bahkan kecewa ketika tim kesayangannya kalah. Namun, sekeras apa pun suara mereka, suporter tidak bisa mengubah skor secara langsung. Yang berlari di lapangan, menyusun serangan, bertahan, dan berjuang merebut kemenangan adalah para pemain.
Begitu pula dalam kehidupan berbangsa. Kritik memang penting, tetapi kritik tanpa tindakan hanya akan menjadi kebisingan. Semangat perubahan tidak cukup diukur dari banyaknya unggahan, panjangnya orasi, atau ramainya diskusi. Ukurannya adalah apa yang benar-benar dikerjakan dan manfaat apa yang dirasakan masyarakat.
Persoalannya, apakah pemuda hari ini sudah siap meninggalkan tribun dan masuk ke lapangan?
Indonesia Tidak Kekurangan Penonton
Kita hidup di tengah berbagai persoalan yang membutuhkan keberanian untuk bertindak. Ancaman kerusakan lingkungan, tekanan ekonomi rumah tangga, keterbatasan lapangan kerja, hingga ketidakpastian masa depan generasi produktif merupakan tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan keluhan.
Ketika masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, pemuda seharusnya hadir membawa gagasan dan inisiatif. Ketika kesempatan kerja semakin menjadi persoalan, pemuda perlu membangun kreativitas, mengembangkan usaha, memperkuat keterampilan, dan menciptakan peluang baru. Ketika persoalan sosial muncul di lingkungan sekitar, pemuda semestinya menjadi bagian dari solusi.
Tentu, kita tidak sedang mengatakan bahwa seluruh persoalan bangsa menjadi tanggung jawab pemuda semata. Negara, pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat memiliki kewajiban masing-masing. Namun, menunggu semua persoalan diselesaikan pihak lain juga bukan sikap yang layak dipelihara oleh generasi yang mengaku ingin membawa perubahan.
Kita perlu berhenti menempatkan pemuda hanya sebagai simbol dalam pidato, pelengkap dalam seremoni, atau objek dalam program pembangunan. Pemuda harus diberi ruang untuk mengambil keputusan, mengembangkan gagasan, mengawasi kebijakan, dan terlibat langsung dalam proses pembangunan.
Sebab, mengajak pemuda berperan bukan berarti menyuruh mereka diam dan mengikuti keadaan. Justru sebaliknya, pemuda harus berani mengkritik ketika kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat. Namun, kritik itu harus disertai argumentasi, data, keberanian menawarkan alternatif, dan kemauan mengawal perubahan.
Jangan sampai kita begitu sibuk membicarakan perubahan, tetapi lupa mengerjakannya.
Cilegon Bukan Kota untuk Sekadar Berbangga
Bagi pemuda Kota Cilegon, tantangan itu terasa semakin dekat. Kota yang dikenal sebagai kawasan industri ini memiliki aktivitas ekonomi yang besar dan potensi pembangunan yang menjanjikan. Namun, besarnya industri tidak otomatis menjamin seluruh pemuda lokal memperoleh kesempatan yang setara.
Di sinilah pertanyaan penting harus diajukan: apakah pemuda Cilegon hanya akan menjadi penonton di tengah geliat industri yang tumbuh di daerahnya sendiri?
Jangan sampai pabrik berdiri megah, investasi terus dibicarakan, dan pertumbuhan ekonomi menjadi kebanggaan, tetapi sebagian pemuda masih kesulitan menemukan jalan untuk meningkatkan keterampilan, memperoleh pekerjaan yang layak, atau membangun usaha secara mandiri.
Persoalan ini tentu membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia industri, lembaga pendidikan, dan organisasi kepemudaan. Pemerintah perlu membuka ruang kebijakan yang berpihak pada pengembangan kapasitas anak muda. Industri perlu memperkuat akses terhadap pelatihan, rekrutmen yang transparan, dan kemitraan dengan usaha lokal. Sementara itu, pemuda harus menyiapkan diri agar mampu bersaing sekaligus menciptakan peluang.
Pemuda tidak cukup hanya menuntut agar diberi kesempatan. Mereka juga harus membuktikan kesiapan melalui kompetensi, integritas, kreativitas, dan kerja nyata. Sebaliknya, jangan pula kesiapan pemuda dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap terbatasnya akses dan kesempatan yang tersedia.
Keduanya harus berjalan beriringan: kesempatan yang adil dan kesiapan untuk memanfaatkannya.
Organisasi kepemudaan pun harus berani mengevaluasi diri. Apakah keberadaannya benar-benar dirasakan masyarakat? Apakah programnya menjawab kebutuhan anak muda? Apakah kegiatannya melahirkan keterampilan, peluang usaha, jaringan kerja, dan gerakan sosial yang berkelanjutan?
Atau justru terlalu sibuk mengurus jabatan, seremoni, dan dokumentasi kegiatan?
Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman. Namun, perubahan tidak pernah dimulai dari pujian yang terus-menerus. Perubahan dimulai ketika kita berani mengakui kekurangan dan memperbaikinya.
Jangan Jadikan Media Sosial sebagai Garis Finish
Media sosial telah memberi pemuda ruang untuk menyampaikan pendapat, mengawasi kekuasaan, dan menggalang solidaritas. Ini merupakan kekuatan yang tidak boleh diremehkan.
Namun, ruang digital juga bisa menjadi jebakan ketika aktivitas dianggap selesai setelah sebuah unggahan mendapat banyak tanda suka, komentar, atau dibagikan berulang kali.
Kita bisa mengkritik persoalan pengangguran setiap hari tanpa pernah membantu membuka akses pelatihan. Kita bisa mengeluhkan kemiskinan tanpa berusaha membangun kegiatan pemberdayaan. Kita bisa berbicara tentang lingkungan tanpa pernah terlibat dalam aksi menjaga kebersihan atau mengedukasi masyarakat.
Tentu, tidak semua pemuda bersikap demikian. Banyak anak muda telah bekerja, berinovasi, membangun usaha, mengembangkan komunitas, dan menggerakkan kegiatan sosial. Mereka membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu jabatan atau kekuasaan.
Justru dari kerja-kerja semacam itulah kita perlu belajar: bahwa kontribusi tidak harus selalu besar untuk menjadi berarti, tetapi harus nyata agar dapat dirasakan.
Media sosial seharusnya menjadi alat untuk memperluas dampak, bukan tempat bersembunyi dari tanggung jawab. Kritik harus membuka jalan bagi solusi. Gagasan harus diterjemahkan menjadi program. Dan program harus menghasilkan manfaat yang dapat diukur.
Jangan sampai kita merasa telah berjuang hanya karena paling lantang menyuarakan persoalan.
Menjadi Pemuda yang Bermanfaat
Pada akhirnya, keterlibatan pemuda bukan hanya soal ekonomi, politik, atau pembangunan. Ada tanggung jawab moral dan spiritual yang juga harus dijaga.
Nilai-nilai agama mengajarkan pentingnya memberikan manfaat kepada sesama. Artinya, keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur dari kedudukan, popularitas, atau banyaknya pengikut, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan bagi kehidupan orang lain.
Pemuda yang berdampak bukan selalu mereka yang tampil di panggung atau namanya terpampang di baliho. Bisa jadi, mereka adalah anak muda yang tekun mendampingi usaha kecil, membantu meningkatkan keterampilan warga, menginisiasi kegiatan sosial, memperjuangkan akses pendidikan, atau membangun komunitas yang produktif.
Mereka mungkin tidak selalu mendapat sorotan. Namun, kerja mereka meninggalkan jejak yang bisa dirasakan.
Di sinilah kita perlu mengembalikan makna kepemudaan: bukan sekadar soal usia, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab. Bukan hanya tentang semangat yang menyala, tetapi juga konsistensi menjaga semangat itu agar menghasilkan sesuatu.
Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan keadaan sambil menolak mengambil bagian di dalamnya. Kita juga tidak boleh menuntut perubahan dari pemerintah, industri, atau masyarakat tanpa bersedia memperbaiki apa yang bisa kita mulai dari lingkungan sendiri.
Tentu, tidak semua masalah dapat diselesaikan oleh pemuda. Namun, selalu ada ruang untuk berkontribusi, sekecil apa pun langkahnya.
Peluit pertandingan kehidupan sudah berbunyi. Persoalan bangsa tidak menunggu sampai kita selesai berdebat. Kesempatan tidak selalu datang dua kali, sementara waktu terus bergerak.
Karena itu, pemuda Cilegon dan seluruh generasi muda Indonesia harus menentukan sikap: tetap nyaman di tribun, sibuk mengomentari jalannya pertandingan, atau turun ke lapangan dan ikut memperjuangkan kemenangan.
Sebab, bangsa ini tidak kekurangan pemuda yang pandai berbicara tentang perubahan. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak pemuda yang berani bekerja, mengambil tanggung jawab, dan membuktikan perubahan melalui tindakan nyata.
Jangan cuma ribut di tribun. Ikat tali sepatu, masuk ke lapangan, dan jadilah bagian dari perubahan yang selama ini kita tuntut.















