PKS Cilegon Tancap Gas: Halal bi Halal Jadi Momentum Bangun Kekuatan Politik

CILEGON, WILIP.ID – Suasana hangat pasca-Ramadhan dimanfaatkan Dewan Pimpinan Tingkat Daerah (DPTD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon untuk lebih dari sekadar ajang silaturahmi. Dalam kegiatan Halal bi Halal yang digelar Sabtu, 18 April 2026 di Gedung Haromain, arah politik sekaligus konsolidasi internal mulai ditegaskan: “Banten Juara, Cilegon Juara”.

Kegiatan yang dihadiri kader lintas struktur—mulai dari DPD, DPC, DPRa, hingga dewan pakar dan penasehat—ini tidak hanya menjadi ruang saling bermaafan. Lebih jauh, forum ini menjadi panggung konsolidasi yang menegaskan bahwa mesin politik PKS di Kota Baja mulai dipanaskan kembali.

Ketua DPD PKS Kota Cilegon, Fery Budiman, secara eksplisit menegaskan arah gerak partai ke depan. Tagline “Banten Juara, Cilegon Juara” bukan sekadar jargon, melainkan sinyal politik yang ingin ditanamkan kuat ke seluruh kader.

“Ini bukan hanya slogan, tapi semangat kolektif yang harus diterjemahkan dalam kerja nyata di lapangan,” tegas Fery.

Ia juga menyoroti pentingnya kerja kolektif dan konsistensi sebagai fondasi utama. Dalam konteks politik lokal yang semakin kompetitif, kekompakan internal dinilai menjadi kunci. Dari struktur tingkat kota hingga akar rumput, seluruh elemen diminta bergerak dalam satu barisan.

Nada yang sama juga disampaikan Ketua DPW PKS Banten, Najib Hamas, yang hadir secara daring. Ia menekankan bahwa energi Ramadhan harus dikonversi menjadi gerakan sosial yang lebih masif.

“Kesalehan tidak boleh berhenti secara personal, tapi harus hadir dalam bentuk kontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pesan tersebut mempertegas positioning PKS yang berupaya menjaga keseimbangan antara dakwah dan kerja-kerja sosial politik—sebuah pendekatan yang selama ini menjadi ciri khas partai tersebut.

Dimensi spiritual dalam kegiatan ini juga tidak ditinggalkan. Tausiyah yang disampaikan Ustadz Waishul Qurni menjadi pengingat bahwa perjuangan politik tanpa fondasi keimanan berpotensi kehilangan arah.

Ia menegaskan, kemenangan sejati bukan semata hasil elektoral, melainkan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. “Politik harus dilandasi niat lurus dan ibadah yang terjaga,” pesannya.

Di sisi lain, momen Halal bi Halal ini juga diwarnai nuansa emosional. Pemberian penghargaan kepada kader yang telah wafat menjadi pengingat bahwa perjuangan partai dibangun dari dedikasi panjang banyak pihak. Tangis haru keluarga yang menerima penghargaan menjadi simbol kuatnya ikatan emosional dalam tubuh partai.

Apresiasi juga diberikan kepada pembina Unit Pembinaan Anggota (UPA) dengan capaian anggota terbanyak—sebuah indikator penting dalam mengukur kekuatan struktur di level akar rumput. Tak hanya itu, penghargaan untuk kader dengan masa pengabdian terlama serta kader disabilitas yang tetap aktif menjadi pesan bahwa loyalitas dan semangat juang adalah nilai utama yang dijunjung tinggi.

Jika ditarik lebih jauh, Halal bi Halal ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ia menjelma menjadi titik awal konsolidasi menuju kontestasi politik berikutnya. Dengan tagline “Cilegon Juara” yang mulai digaungkan, PKS tampak ingin menegaskan ambisi sekaligus kesiapan mereka dalam percaturan politik lokal.

Pertanyaannya kini, seberapa jauh semangat ini bisa diterjemahkan menjadi kerja konkret di tengah masyarakat?

Yang jelas, dari Gedung Haromain, langkah itu sudah mulai disusun—rapi, terarah, dan penuh perhitungan.

 

(Has/Red*)