CILEGON, WILIP.ID — Lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia Pramuka, Sapriyanto tidak berhenti pada status sebagai anggota. Dari seorang penggalang pada 2002, ia terus menapaki perjalanan hingga dipercaya menjadi Bendahara Kwartir Ranting (Kwaran) Grogol, sekaligus aktif sebagai pembina Pramuka dan mengembangkan usaha yang menyasar kebutuhan para anggota.
Perjalanan itu membuat Pramuka bagi Sapriyanto bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan ruang pengabdian yang terus ia bawa ke berbagai bidang kehidupan.
Di dunia pendidikan, misalnya, Sapriyanto pernah menjadi staf di SMA Negeri 4 Cilegon pada 2009-2014. Setelah itu, ia mengabdikan diri sebagai guru di SMK Prima Mandiri pada 2015-2023.
Pengalaman sebagai pendidik kemudian beririsan dengan kiprahnya dalam pembinaan generasi muda. Sapriyanto dipercaya menjadi Pembina Pramuka MTs Al Mumtaz Florida, memperpanjang pengabdiannya di dunia yang telah dikenalnya sejak usia penggalang.
Namun kiprahnya tidak berhenti di organisasi dan pendidikan.
Sapriyanto juga mencoba menjawab kebutuhan praktis anggota Pramuka melalui Tunas Bayur, usaha yang dikembangkannya untuk menyediakan berbagai kebutuhan perlengkapan Pramuka.
Gagasannya berangkat dari pengalaman berada langsung di lingkungan kepramukaan. Ia ingin anggota lebih mudah memperoleh perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengikuti berbagai kegiatan.
“Ya, mempermudah anggota Pramuka,” ujar Sapriyanto saat menjelaskan motivasinya membangun Tunas Bayur.
Bagi Sapriyanto, usaha tersebut menjadi bagian lain dari upayanya memberi manfaat bagi komunitas Pramuka. Pengalaman berorganisasi membuatnya memahami kebutuhan anggota, sementara aktivitas usaha menjadi salah satu cara untuk menjawab kebutuhan tersebut secara lebih praktis.
Perjalanan Sapriyanto sendiri dimulai dari bangku sekolah. Ia menempuh pendidikan di SDN Pringori, kemudian SMP Bina Insan dan SMA Negeri 4 Cilegon. Pendidikan tingginya ditempuh di STKIP Suluh Bangsa dan diselesaikan pada 2014.
Sejak aktif sebagai penggalang pada 2002, dunia Pramuka terus menjadi bagian dari kehidupannya. Peran yang dijalaninya pun berkembang, dari anggota, pendidik, pembina hingga pengurus organisasi.
Kini, sebagai Bendahara Kwaran Grogol, Sapriyanto berada di salah satu ruang penting dalam pengelolaan organisasi Pramuka di tingkat ranting.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah aktivitas yang dimulai sejak usia muda dapat berkembang menjadi pengabdian panjang.
Bagi Sapriyanto, Pramuka bukan hanya tentang seragam, perkemahan atau kegiatan di lapangan. Ada nilai pendidikan, organisasi, kemandirian dan kebersamaan yang terus ia bawa dalam perjalanan hidupnya.
Dari seorang penggalang pada 2002, Sapriyanto kini menjalani peran sebagai pengurus Kwaran, pembina Pramuka, pendidik sekaligus pelaku usaha.
Empat peran yang berbeda, tetapi bertemu pada satu benang merah: tetap tumbuh bersama Pramuka dan berupaya memberikan manfaat bagi anggotanya.
(Alfa/Red*)















