Satu Abad Al-Khairiyah: Ikhtiar Tanpa Henti Membangun Peradaban Bangsa

CILEGON, WILIP.ID — Sebuah abad bukan sekadar hitungan tahun. Bagi Al-Khairiyah, 100 tahun adalah jejak panjang pengabdian—sebuah tapak sejarah yang merekam konsistensi dalam dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial keagamaan. Memasuki usia seabad pada 5 Mei 2025 mendatang, organisasi Islam yang berbasis di Cilegon, Banten ini bersiap melangkah ke masa depan dengan semangat baru dan pijakan yang lebih kokoh.

“Kami bersyukur, diakui atau tidak, Al-Khairiyah tetap istiqomah dalam memberi kontribusi nyata bagi bangsa, negara, dan agama,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Al-Khairiyah, KH Ali Mujahidin atau yang akrab disapa Haji Mumu, kepada Wilip.id, Senin (21/4/2025).

“Semua itu kami lakukan melalui jalur pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial keagamaan yang menjadi denyut nadi gerakan kami selama ini.”

Ia menegaskan, misi utama agama tidak lain adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Prinsip itu, menurutnya, menjadi fondasi semua program dan kegiatan Al-Khairiyah sejak awal berdirinya.

“Kami ingin menjadikan satu abad ini bukan hanya sebagai momentum nostalgia, tetapi juga sebagai refleksi, evaluasi, dan langkah maju untuk membangun masa depan umat yang lebih bermartabat,” tambahnya.

Seremoni Sederhana, Spirit Mendalam

Dalam menyambut hari lahirnya yang ke-100, Al-Khairiyah memilih untuk menggelar acara secara sederhana namun penuh makna di Kampus Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon. Sejumlah tokoh nasional dan daerah dijadwalkan hadir, termasuk Menteri Pertanian H. Yandri Susanto yang juga merupakan pembina Al-Khairiyah, Ketua MPR RI H. Ahmad Muzani, para cendekiawan, kepala daerah se-Banten, hingga para alumni dan simpatisan.

Rangkaian acara akan digelar sejak 1 Mei hingga puncaknya pada 5 Mei 2025. Tak hanya seremoni, kegiatan-kegiatan bernuansa sosial dan spiritual juga akan menjadi bagian dari peringatan ini—mulai dari infaq dan shodaqoh berjamaah di seluruh jaringan Al-Khairiyah, doa bersama, bakti sosial, hingga peluncuran buku reflektif yang mendokumentasikan perjalanan satu abad Al-Khairiyah.

Langkah ke Depan: Digitalisasi Pendidikan

Yang tak kalah penting dalam momentum ini adalah peluncuran Sistem Informasi Pendidikan Sekolah dan Madrasah (SISMA 05)—sebuah platform digital yang dirancang untuk memudahkan pengelolaan pendidikan di lingkungan sekolah dan madrasah. Platform ini terbuka tidak hanya bagi internal Al-Khairiyah, tetapi juga bagi lembaga-lembaga pendidikan umum di Indonesia.

Langkah ini mencerminkan kesadaran Al-Khairiyah akan pentingnya transformasi digital dalam dunia pendidikan. “Kami ingin agar pendidikan Islam tidak tertinggal. Dengan SISMA 05, sekolah-sekolah bisa lebih efisien dalam manajemen dan pelayanan akademik,” tutur Haji Mumu.

Membangun Peradaban Lewat Jalan Ilmu

Usia satu abad menjadi simbol kedewasaan. Namun bagi Al-Khairiyah, itu juga pertanda awal dari langkah panjang ke depan—menuju peran yang lebih besar dalam membentuk wajah Indonesia masa depan. “Kami ingin agar ke depan Al-Khairiyah mampu berkontribusi lebih luas, tak hanya di bidang dakwah dan pendidikan, tapi juga teknologi, ekonomi, politik, dan budaya,” tandas Haji Mumu.

Bagi Al-Khairiyah, dakwah bukan sekadar ceramah. Pendidikan bukan hanya tentang kurikulum. Dan satu abad bukan sekadar angka. Ia adalah cerita panjang keteguhan, komitmen, dan harapan—bahwa dari satu sudut di Cilegon, lahir gerakan yang terus tumbuh, menyalakan lentera ilmu dan iman untuk peradaban bangsa.

(Red*)