STIT Al-Khairiyah Benahi Sistem Akademik, Disiplin Kuliah hingga Adaptasi Digital

CILEGON, WILIP.ID — Persaingan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif memaksa perguruan tinggi untuk bergerak cepat melakukan pembenahan internal. Tidak hanya soal kualitas lulusan, tetapi juga menyangkut disiplin akademik, efektivitas pembelajaran, hingga kemampuan kampus beradaptasi dengan perkembangan teknologi pendidikan.

Isu tersebut menjadi perhatian serius di STIT Al-Khairiyah Citangkil saat menggelar rapat koordinasi struktural evaluasi Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Selasa (21/4/2026), di Meeting Room I kampus tersebut.

Rapat dipimpin Wakil Ketua I, Faizudin, dan dihadiri jajaran pimpinan struktural, Ketua Program Studi PAI dan PIAUD, serta unsur administrasi akademik.

Evaluasi ini bukan sekadar agenda rutin semesteran. Di tengah tuntutan peningkatan mutu pendidikan tinggi keagamaan Islam, STIT Al-Khairiyah mulai menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang selama ini kerap menjadi tantangan di lingkungan kampus, mulai dari efektivitas jadwal perkuliahan, konsistensi pelayanan administrasi, hingga pola pembelajaran yang dinilai harus lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Dalam forum tersebut, isu kedisiplinan pelaksanaan perkuliahan menjadi salah satu fokus utama. Kampus menilai, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga konsistensi pelaksanaan proses belajar mengajar di lapangan.

Evaluasi dilakukan terhadap ketercapaian target kurikulum, kehadiran dosen dan mahasiswa, efektivitas jadwal kuliah, hingga pelayanan administratif selama semester berjalan.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan proses akademik tidak berjalan stagnan. Terlebih, perguruan tinggi saat ini dituntut mampu menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, cepat, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan masyarakat.

“Evaluasi menjadi bagian penting untuk membangun budaya akademik yang lebih disiplin dan profesional,” demikian mengemuka dalam pembahasan rapat tersebut.

Tidak berhenti pada evaluasi teknis, STIT Al-Khairiyah juga mulai melakukan penyelarasan kurikulum dan penyesuaian jadwal akademik. Kebijakan ini disebut sebagai langkah strategis agar materi pembelajaran tetap relevan dengan standar pendidikan nasional sekaligus kebutuhan praktis di dunia kerja dan masyarakat.

Di tengah perubahan cepat dunia pendidikan, kampus keagamaan dinilai tidak bisa lagi bertahan dengan pola lama. Kurikulum harus mampu menjawab tantangan era digital, penguatan kompetensi riset, hingga kemampuan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat.

Langkah restrukturisasi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa STIT Al-Khairiyah ingin mempertegas diri sebagai perguruan tinggi Islam yang adaptif dan visioner di wilayah Banten.

Salah satu isu yang juga mendapat sorotan ialah optimalisasi blended learning atau sistem pembelajaran campuran antara tatap muka dan digital.

Model pembelajaran ini dinilai bukan lagi sekadar alternatif pasca-pandemi, melainkan sudah menjadi kebutuhan mutlak dalam sistem pendidikan modern. Karena itu, kampus mulai mendorong peningkatan kapasitas dosen dalam mengelola pembelajaran digital secara lebih kreatif dan interaktif.

Penggunaan video pembelajaran, kuis digital, hingga metode sinkron dan asinkron mulai diarahkan menjadi standar baru dalam proses perkuliahan.

Di tengah pesatnya transformasi teknologi pendidikan, perguruan tinggi yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal. Karena itu, STIT Al-Khairiyah mencoba menjadikan momentum evaluasi semester ini sebagai pijakan untuk melakukan continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan.

Tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan akhlakul karimah yang kuat.

Melalui evaluasi menyeluruh tersebut, STIT Al-Khairiyah Citangkil berharap mampu memperkuat kualitas layanan pendidikan sekaligus mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam unggulan di Kota Cilegon.

(Has/Red*)