Suroji Kembali Pimpin Pergunu Cilegon, Fokus Tingkatkan Kualitas dan Nasib Guru

CILEGON, WILIP.ID — Pergunu Kota Cilegon memasuki babak baru. Setelah dinilai mampu menjalankan roda organisasi pada periode sebelumnya, Suroji kembali dipercaya memimpin Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kota Cilegon untuk masa khidmat 2026-2031.

Suroji terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Cabang (Konfercab) Pergunu Kota Cilegon. Mandat lima tahun ke depan itu membawa pekerjaan rumah yang tidak ringan: meningkatkan kualitas guru sekaligus memperjuangkan nasib dan masa depan profesi pendidik.

Bagi Suroji, peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kualitas gurunya. Guru bukan hanya dituntut mampu menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan akhlak peserta didik.

“Guru harus mampu meningkatkan kompetensi sebagai pendidik, baik dalam transfer of knowledge maupun membentuk akhlakul karimah,” ujar Suroji.

Karena itu, Pergunu di bawah kepemimpinannya diarahkan tidak hanya berbicara tentang peningkatan kompetensi, tetapi juga memperjuangkan kesejahteraan, perlindungan serta hak-hak guru.

Perhatian tersebut mencakup guru di berbagai sektor, baik formal, nonformal maupun informal. Sebab, persoalan pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Di balik proses belajar mengajar, terdapat persoalan kesejahteraan dan kepastian masa depan yang turut menentukan kualitas seorang pendidik.

Sekretaris Pergunu Banten Syaiful Anam mengatakan masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus dikawal Pergunu Cilegon. Mulai dari kompetensi, kesejahteraan, perlindungan hingga pemenuhan hak-hak guru.

“Semua itu akan kita dorong melalui program-program ke depan yang memiliki keberpihakan kepada hak-hak guru,” katanya.

Tantangan berikutnya bukan hanya bagaimana meningkatkan kapasitas guru, tetapi juga memastikan organisasi memiliki mesin kerja yang berjalan.

Wakil Ketua I Bidang Keorganisasian Pergunu Kota Cilegon, Hilman Setiaji, yang akrab disapa Uze, mendorong Pergunu tampil lebih aktif, terukur dan memiliki program yang menyentuh langsung kebutuhan guru serta pendidikan di Kota Cilegon.

Menurut Hilman, posisi Pergunu cukup strategis karena anggotanya berada di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, TPA, SD, MI, SMP, MTs, SMA hingga SMK.

Artinya, Pergunu memiliki ruang yang luas untuk ikut mendorong peningkatan kualitas pendidikan sekaligus membangun kader-kader pendidikan.

“Pergunu itu berada di semua level pendidikan. Karena itu, organisasi ini harus mampu mengambil peran dalam peningkatan kualitas pendidikan sekaligus penguatan keorganisasian,” kata Hilman.

Ia juga mendorong Pergunu membangun sinergi dengan berbagai program Pemerintah Kota Cilegon yang memiliki irisan dengan dunia pendidikan.

Sedikitnya ada tiga agenda yang dinilai relevan untuk dikawal bersama, yakni Beasiswa Juara, penguatan tata kelola organisasi pendidikan dan program Kolase.

Hilman menyebut Beasiswa Juara dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses masyarakat Cilegon terhadap pendidikan tinggi.

“Beasiswa Juara merupakan salah satu ikon Kota Cilegon dalam rangka mencetak kader-kader pendidikan hingga sarjana,” ujarnya.

Menurut dia, investasi di bidang pendidikan pada akhirnya berkaitan dengan pembangunan manusia. Peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

“Di dalam pendidikan inilah terdapat peran penting bagaimana meningkatkan IPM Kota Cilegon,” katanya.

Peran Pergunu, menurut Hilman, juga tidak harus berhenti pada isu pendidikan.

Melalui program Kolase, organisasi guru tersebut didorong ikut membangun kesadaran lingkungan di satuan pendidikan, terutama dalam pengelolaan dan pemilahan sampah.

Bagi Hilman, budaya peduli lingkungan harus ditanamkan sejak bangku sekolah.

“Anadhofatu minal iman. Kebersihan merupakan bagian daripada iman. Karena itu, pengelolaan sampah di tingkat satuan pendidikan juga harus ditata kembali,” tuturnya.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa organisasi profesi guru memiliki ruang untuk mengambil peran lebih luas: mendidik bukan hanya melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui kebiasaan dan keteladanan.

Dari Jamaah Menjadi Jam’iyah

Hilman yang menjadi bagian dari Steering Committee (SC) Konfercab Pergunu juga menitipkan pesan kepada kepengurusan baru di bawah Suroji.

Pergunu, kata dia, tidak boleh berhenti sebagai organisasi yang aktif ketika ada konferensi, pelantikan atau agenda seremonial. Organisasi harus memiliki sistem kerja yang jelas.

Mulai dari sekretariat, program kerja terukur, agenda rutin mingguan dan bulanan, hingga kegiatan yang terhubung dengan momentum nasional maupun keagamaan.

“Jangan hanya menjadi jamaah, tetapi harus menjadi jam’iyah. Kalau jamaah lebih kepada perkumpulan, sementara jam’iyah menukik pada program dan kerja organisasi,” kata Hilman.

Pesan itu sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi Suroji dan jajaran pengurus yang akan dibentuk.

Pergunu harus mampu menjadi ruang kaderisasi, pengembangan keilmuan dan peningkatan kapasitas profesional guru. Sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama, penguatan Pergunu juga diharapkan berjalan seiring dengan agenda kaderisasi dan penguatan kelembagaan NU di Kota Cilegon.

Usai Konfercab, kepengurusan baru akan disusun untuk kemudian diajukan penerbitan SK, dilanjutkan pelantikan dan rapat kerja.

Di forum itulah agenda lima tahun Pergunu Cilegon akan diterjemahkan menjadi program konkret.

Mandat baru Suroji pada akhirnya bukan sekadar melanjutkan kepemimpinan. Ada tuntutan agar Pergunu bergerak lebih jauh: guru semakin kompeten, organisasi semakin solid, hak-hak guru semakin diperjuangkan, dan pendidikan semakin memberi dampak bagi pembangunan Kota Cilegon.

“Yang paling penting adalah bagaimana mencetak kader organisasi, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperkuat keilmuan guru yang ada di Pergunu,” pungkas Hilman.

(Alfa/Red*)