UNIVAL Tembus Malaysia, Teken Kerja Sama Strategis dan Luncurkan PKM Internasional

banner 120x600

CILEGON, WILIP.ID — Universitas Al-Khairiyah (UNIVAL) kembali menunjukkan kelasnya di panggung global. Kampus kebanggaan Banten ini resmi menandatangani paket kerja sama internasional dengan sejumlah institusi ternama Malaysia, mulai dari SEGi University, Management & Science University (MSU) hingga Kumpulan Media Karangkraf, salah satu grup media terbesar di Negeri Jiran.

Tak tanggung-tanggung, kolaborasi itu dikunci melalui tiga instrumen strategis sekaligus:
Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementing Arrangement (IA)—menandai babak baru internasionalisasi UNIVAL yang lebih terstruktur, operasional, dan berdampak nyata.

Kerja sama ini menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional, yang dirancang sebagai ruang kolaborasi akademik lintas negara, lintas sektor, dan lintas budaya.

Universitas Al-Khairiyah diwakili oleh Maya Arisandy, SE., M.Ak., yang juga tampil sebagai salah satu figur sentral dalam agenda akademik tersebut. Ia menegaskan bahwa program ini tidak sekadar seremoni, tetapi merupakan strategi besar untuk mendorong daya saing global perguruan tinggi Indonesia.

“Program PKM internasional dengan tema ‘Internationalization Three Pillars of Higher Education through Academic Collaboration, Industrial Partnership, and Global Community Empowerment’ membuka wawasan saya tentang betapa krusialnya sinergi antara dunia kampus, industri, dan masyarakat global,” ujar Maya.

Menurutnya, tiga pilar itu menjadi fondasi baru pendidikan tinggi modern. Kolaborasi akademik membuka jalan bagi pertukaran dosen, riset bersama, dan mobilitas internasional. Kemitraan industri memastikan lulusan tidak sekadar pintar teori, tetapi relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Sementara pemberdayaan komunitas global menegaskan peran sosial kampus sebagai agen perubahan lintas negara.

“Internasionalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat inovasi yang memberi dampak sosial berkelanjutan,” tegasnya.

Tak hanya di meja perjanjian, UNIVAL juga tampil di ruang akademik strategis. Maya Arisandy dipercaya menjadi narasumber tamu di hadapan mahasiswa MSU Malaysia yang tengah menentukan konsentrasi studinya.

Menariknya, hasil pemungutan suara menunjukkan 40 persen mahasiswa memilih bidang akuntansi, membuka peluang besar bagi kerja sama UNIVAL dalam pengembangan kurikulum, riset, dan penguatan kompetensi lintas negara.

Di forum itu, Maya memaparkan peta masa depan profesi akuntan dan pebisnis di era digitalisasi, AI, dan teknologi finansial—sekaligus mendorong mahasiswa untuk membekali diri dengan kompetensi global.

“Saya berharap proyek-proyek yang sudah dipresentasikan bisa segera masuk tahap kolaborasi dan implementasi pada kuartal III tahun 2026,” ujarnya optimistis.

Melalui kerja sama ini, Universitas Al-Khairiyah tak sekadar membuka pintu luar negeri, tetapi mengunci masa depan pendidikan tinggi yang lebih kompetitif dan berstandar internasional.

Kesepakatan dengan institusi Malaysia ini akan menjadi dasar bagi:

  • pengembangan program akademik bersama,
  • penelitian kolaboratif internasional,
  • hingga pembaruan kerangka kerja kurikulum agar selaras dengan kebutuhan global.

Dengan langkah strategis ini, UNIVAL mengukuhkan diri bukan hanya sebagai kampus regional, tetapi sebagai aktor baru dalam diplomasi pendidikan internasional—mengantar mahasiswa Indonesia menuju panggung dunia.

 

(Has/Red*)