CILEGON, WILIP.ID — Enam puluh tahun cukup panjang untuk membuat sebuah organisasi berhadapan dengan satu pertanyaan: apa yang masih relevan dari perjuangannya?
Pertanyaan itu mengiringi Dies Natalis ke-60 Korps HMI-Wati (KOHATI) pada 17 September 2026. Enam dekade perjalanan KOHATI bukan semata catatan usia, melainkan momentum untuk menguji kembali gagasan dan gerakan organisasi perempuan di tengah zaman yang berubah cepat.
Teknologi mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi. Dunia pendidikan bergerak dengan pola baru. Ruang kerja semakin kompetitif. Perempuan muda pun berhadapan dengan tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Dalam situasi itu, sekadar mempertahankan keberadaan organisasi tidak lagi cukup.
Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Cilegon, Dian Novitasari, mengatakan usia 60 tahun harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran dan kontribusi KOHATI.
“60 tahun KOHATI bukan hanya tentang bertambahnya usia organisasi, tetapi tentang sejauh mana nilai dan perjuangan KOHATI tetap relevan dengan persoalan perempuan hari ini,” kata Dian.
Pernyataan itu menempatkan KOHATI pada pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar merayakan ulang tahun. Organisasi dituntut menerjemahkan nilai perjuangannya ke dalam persoalan konkret yang dihadapi perempuan muda hari ini.
Dian mengatakan KOHATI perlu menjadi ruang yang mendorong perempuan meningkatkan kapasitas intelektual sekaligus keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.
“Kita ingin KOHATI terus menjadi ruang tumbuh bagi perempuan. Bukan hanya tempat untuk belajar dan berdiskusi, tetapi juga tempat untuk membangun keberanian dan kepemimpinan,” ujarnya.
Bagi Dian, kaderisasi menjadi salah satu kunci. Enam puluh tahun perjalanan telah meninggalkan nilai yang dibangun generasi terdahulu. Namun, warisan itu tidak cukup hanya dirawat sebagai sejarah.
Generasi sekarang memiliki medan perjuangan yang berbeda. Karena itu, metode gerakan pun dituntut berubah.
“Generasi hari ini memiliki tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, cara kita bergerak juga harus berkembang,” tuturnya.
Di sinilah usia 60 tahun KOHATI menemukan relevansinya. Enam dekade dapat menjadi modal pengalaman, tetapi juga bisa menjadi sekadar angka jika gagasan organisasi tidak mampu mengikuti perubahan masyarakat.
Dian berharap momentum Dies Natalis ke-60 menjadi titik penguatan kader KOHATI untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan memperluas kontribusi di berbagai bidang.
“Semoga di usia ke-60 ini KOHATI semakin matang dalam gagasan, kuat dalam kaderisasi, dan semakin nyata kontribusinya. Perempuan harus memiliki ruang untuk tumbuh, memimpin, dan memberikan manfaat,” kata Dian.
Enam puluh tahun akhirnya bukan garis akhir bagi KOHATI. Ia justru menjadi titik untuk melihat ke depan: apakah organisasi mampu melahirkan perempuan muda yang bukan hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga hadir dan mengambil peran di dalamnya.
Sebab, organisasi yang panjang usianya belum tentu panjang pengaruhnya. Relevansi harus terus diperjuangkan.
(Alfa/Red*)















