CILEGON, WILIP.ID — Caretaker Ketua Karang Taruna Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, Ressa Ahmad Perdana, meminta proses pembentukan kepengurusan definitif segera dituntaskan. Ia tak ingin organisasi kepemudaan itu kembali berjalan tanpa arah dan aktivitas yang jelas.
Ressa mengatakan dirinya baru menerima surat keputusan (SK) sebagai caretaker kurang dari sepekan sebelum musyawarah digelar. Meski waktunya singkat, ia memilih mendorong proses musyawarah agar segera menghasilkan ketua definitif.
“Saya sebagai caretaker belum seminggu mendapatkan SK dari Ketua Karang Taruna Kecamatan Purwakarta. Saya minta cepat saja,” kata Ressa saat musyawarah Karang Taruna Kebondalem, Senin 14 September 2026.
Menurut Ressa, musyawarah bukan sekadar agenda memilih ketua. Forum tersebut harus menjadi momentum untuk mengembalikan Karang Taruna sebagai wadah pemuda yang aktif dan mampu bekerja di tengah masyarakat.
Ia berharap siapa pun yang nantinya terpilih tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir. Ketua baru harus mampu merangkul pemuda, membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat, sekaligus menjalankan program yang konkret.
“Siapa pun yang terpilih, harapan saya Karang Taruna bisa kembali berjalan dan memberikan manfaat,” ujarnya.
Ressa menilai Karang Taruna tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Organisasi harus memiliki kegiatan dan keberanian untuk turun langsung ke masyarakat.
Menurutnya, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah musyawarah selesai. Ketua dan pengurus baru harus membuktikan bahwa organisasi tidak hanya aktif saat pemilihan atau kegiatan seremonial.
“Musyawarah bisa selesai dalam satu malam. Tapi setelah itu yang penting bagaimana pengurus bekerja,” katanya.
Ia ingin Karang Taruna Kebondalem kembali menjadi ruang bagi pemuda untuk berorganisasi, mengembangkan kapasitas diri, sekaligus terlibat dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Harapan tersebut mendapat dukungan dari Lurah Kebondalem, Hj. Bety Tety Sugiharty, S.Ag., MM. Bety mengaku selama ini pihak kelurahan mengalami kendala ketika membutuhkan keterlibatan Karang Taruna dalam berbagai kegiatan masyarakat.
“Jangan dibentuk, tapi setelah itu tidak ada kegiatan,” ujar Bety.
Menurut Bety, pemuda Kebondalem sebenarnya memiliki potensi. Karang Taruna Kebondalem bahkan pernah menorehkan prestasi dalam kegiatan kepemudaan hingga tingkat provinsi.
Karena itu, ia berharap kepengurusan baru mampu mengonsolidasikan potensi tersebut dan membuat organisasi kembali aktif.
Bety juga mendorong Karang Taruna mengambil peran lebih luas dalam pemberdayaan pemuda, termasuk membangun komunikasi dengan dunia usaha dan membuka ruang peningkatan kapasitas bagi generasi muda.
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kota Cilegon Ahmad Aflahul Aziz mengingatkan agar Karang Taruna tidak hanya mengandalkan identitas dan seragam organisasi.
“Yang penting Karang Taruna hadir dan eksis. Ketika masyarakat membutuhkan, hadir,” kata Ahmad.
Kini, pekerjaan rumah Karang Taruna Kebondalem bukan sekadar memilih ketua baru.
Tantangan sebenarnya adalah membuktikan bahwa kepengurusan baru mampu mengubah organisasi dari sekadar struktur menjadi gerakan yang nyata.
Sebab setelah musyawarah usai, masyarakat tidak membutuhkan janji. Masyarakat membutuhkan kerja.
(Has/Red*)















